Oleh: BM
Sejak tahun 2015, informasi mengenai besarnya potensi ekonomi SAMOTA berulang kali saya sampaikan kepada para pemegang kebijakan, baik di tingkat kabupaten maupun provinsi. Saya serahkan sebagi hasil kerja profesional dan praktisi.
Data telah tersedia, potensi telah dipetakan, dan berbagai gagasan telah dibicarakan. Namun, hingga hari ini, perhatian yang sungguh-sungguh untuk mengubah potensi tersebut menjadi manfaat nyata bagi daerah masih belum terlihat secara memadai. Maaf, minim perhatian.
Teluk Saleh adalah salah satu contoh yang paling terang benderang.
Pada tahun 2025, lima komoditas utama Teluk Saleh—udang, rumput laut, ikan kerapu, bandeng, dan ikan tangkapan—menghasilkan nilai sekitar Rp12,788 triliun.
Udang menyumbang sekitar Rp7,194 triliun, rumput laut Rp2,308 triliun, ikan tangkapan Rp3,081 triliun, sedangkan sisanya berasal dari bandeng dan ikan kerapu.
Angka ini sangat besar, di atas dua digit. Mengalami fluktuatif dari tahun ke tahun. Namun, kita perlu mengajukan pertanyaan yang lebih penting:
Berapa bagian dari nilai sebesar itu yang benar-benar tinggal, berputar, dan menciptakan kesejahteraan di daerah? Di Tana Samawa?
Sebagian besar komoditas tersebut masih diperdagangkan dalam bentuk bahan mentah atau produk dengan tingkat pengolahan yang sangat terbatas. Komoditas diproduksi di Teluk Saleh, memanfaatkan ruang laut dan sumber daya alam daerah, melibatkan tenaga masyarakat pesisir, kemudian dibawa keluar untuk diolah, diberi merek, dikemas, dan dipasarkan dengan nilai yang jauh lebih tinggi. Apakah fakta semacam ini dibiarkan?
Produknya berasal dari Tana Samawa, tetapi nilai tambah terbesarnya justru tumbuh di luar daerah.
Karena itu, nilai produksi Rp12,788 triliun tidak boleh serta-merta dianggap sebagai pendapatan yang diterima daerah. Nilai tersebut adalah nilai ekonomi komoditas. Manfaatnya bagi fiskal daerah, pendapatan masyarakat, kesempatan kerja, pertumbuhan industri lokal, dan Pendapatan Asli Daerah masih perlu dihitung secara transparan.
Silakan periksa struktur pendapatan daerah. Apakah besarnya kekayaan yang dihasilkan Teluk Saleh telah tercermin secara sepadan dalam kemampuan fiskal Kabupaten Sumbawa dan Provinsi Nusa Tenggara Barat?
Di sinilah letak persoalan pokok kita.
Daerah kaya sumber daya, tetapi masih lemah dalam menangkap nilai tambah. Kita bangga menjadi daerah penghasil, tetapi belum cukup kuat menjadi daerah pengolah, pemilik merek, pusat perdagangan, dan penerima manfaat utama.
Kondisi ini terasa semakin ironis ketika daerah sedang menghadapi tekanan fiskal sebagai dampak kebijakan efisiensi pemerintah pusat. Belanja pembangunan menyempit, ruang fiskal terbatas, sementara sumber daya ekonomi bernilai belasan triliun rupiah terus bergerak keluar daerah setiap tahun. Apakah hal semacam ini diketahui oleh para pejabat pembantu Kepala Daerah?
Jika ya, maka sudah saatnya kita berhenti hanya menghitung berapa ton yang diproduksi. Kita harus mulai menghitung:
Berapa nilai tambah yang tinggal di daerah?
Berapa tenaga kerja lokal yang terserap?
Berapa usaha lokal yang tumbuh?
Berapa kontribusinya terhadap pendapatan daerah?
Dan berapa besar manfaat yang diterima masyarakat pesisir?
Pengalaman empat dasawarsa bekerja di dalam pemerintahan, membuat saya tidak bisa tidur nyenyak. Saya memahami bahwa perubahan tidak cukup dilahirkan melalui rapat, seminar, dan dokumen perencanaan. Semua itu penting, tetapi pada akhirnya kemajuan ditentukan oleh keberanian mengambil keputusan, kejelasan penanggung jawab, dukungan anggaran, kemampuan kolaborasi, dan konsistensi pelaksanaan.
Teluk Saleh membutuhkan terobosan yang nyata.
Pertama, membangun hilirisasi industri pengolahan, mulai dari udang beku dan siap saji, fillet dan produk olahan ikan, hingga industri karaginan dan produk turunan rumput laut.
Kedua, membangun rantai dingin dan sistem logistik, berupa pabrik es, cold storage, angkutan berpendingin, serta pusat distribusi yang terhubung dengan pelabuhan dan pasar.
Ketiga, memperkuat mutu, sertifikasi, dan ketertelusuran produk, sehingga komoditas Teluk Saleh memenuhi standar nasional dan internasional serta memiliki identitas asal yang jelas.
Keempat, membangun merek bersama Teluk Saleh, memperluas pemasaran digital, dan membuka kontrak pasar nasional maupun ekspor.
Kelima, membentuk kemitraan usaha dan pembiayaan yang mempertemukan koperasi produsen, nelayan, pembudi daya, UMKM, industri, perbankan, dan investor hijau.
Keenam, memastikan seluruh kegiatan berjalan berdasarkan prinsip produksi berkelanjutan, daya dukung lingkungan, biosekuriti, zonasi yang jelas, dan perlindungan ekosistem Teluk Saleh.
Langkah awalnya tidak harus menunggu proyek besar. Tapi dibutuhkan kempuan adaptasi terhadap situasi.
Mulailah dengan menyusun peta rantai nilai setiap komoditas, memilih produk yang paling siap dihilirisasi, menetapkan lokasi industri pengolahan, menyiapkan skema kemitraan, serta merumuskan indikator manfaat lokal yang dapat diukur setiap tahun.
Kita memerlukan target yang jelas: nilai investasi, kapasitas pengolahan, tenaga kerja lokal, volume pembelian dari produsen, pertumbuhan UMKM, ekspor, dan kontribusi terhadap pendapatan daerah. Jangan pasif!
Saya mengajak seluruh perangkat daerah terkait untuk membantu Bupati Sumbawa menerjemahkan potensi ini menjadi program yang dapat dieksekusi.
Jadilah pemegang jabatan yang kreatif, inovatif, adaptif, dan berani mengambil tanggung jawab. Jangan hanya menunggu petunjuk. Jangan merasa cukup karena telah menyelenggarakan rapat, studi banding, dan menyusun laporan.
Tanyakan dengan jujur kepada diri kita masing-masing:
Apa yang telah saya kerjakan dan tinggalkan untuk kemajuan daerah ini?
SAMOTA tidak kekurangan potensi. Teluk Saleh tidak kekurangan produksi. Yang kita perlukan adalah keberanian mengubah kekayaan alam menjadi nilai tambah, lapangan kerja, kekuatan fiskal, dan kesejahteraan masyarakat.
Ayo bekerja.
Ayo eksekusi.
Kurangi diskusi yang berhenti sebagai wacana.
SAMOTA harus dijaga.
Potensinya harus diolah.
Dan manfaatnya harus dirasakan sebesar-besarnya oleh masyarakat daerah.
#BM.SangPijar #SAMOTA #TelukSaleh #EkonomiBiru #Hilirisasi #NilaiTambah #Sumbawa #NTB #PembangunanDaerah





