Sumbawa Besar, SakaNTB.com| 18 Februari 2026– Pemerintah Desa Penyaring terus mengembangkan Taman Wisata Nanga Sirah sebagai destinasi unggulan berbasis ekowisata. Kawasan mangrove seluas kurang lebih 80 hektare itu mulai dibangun pada 2023 dan diresmikan pada 22 Januari 2024, bertepatan dengan Hari Ulang Tahun Kabupaten Sumbawa, oleh Bupati Mahmud Abdullah.
Kepala Desa Penyaring Kecamatan Moyo Utara, Abdul Wahab yang akrab disapa Kades Aho menjelaskan, pengembangan wisata ini berawal dari upaya menggali potensi desa yang sebelumnya belum dikelola secara optimal.
“Awalnya kami melihat hutan mangrove ini sebagai potensi besar yang belum tersentuh. Dari situlah pembangunan dimulai pada 2023,” ujarnya.
Tracking Mangrove Kini Tembus Pantai
Pada tahap awal peresmian, jalur tracking mangrove yang dibangun baru mencapai sekitar 300 meter. Kini, panjangnya telah bertambah menjadi 650 meter dan telah terhubung langsung hingga ke kawasan pantai.
Pengembangan infrastruktur tersebut dibiayai dari berbagai sumber, mulai dari bantuan aspirasi DPRD senilai Rp150 juta, hingga Dana Desa yang dialokasikan dalam dua tahap masing-masing Rp100 juta dan Rp150 juta.
Selain dukungan anggaran, pengelolaan kawasan wisata ini juga melibatkan berbagai unsur masyarakat, seperti Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), kelompok peduli mangrove, serta warga Dusun Omo dan Labuan Sawo. Pendekatan partisipatif ini dinilai menjadi kunci keberlanjutan pengembangan wisata.
Dorong PAD Desa dan UMKM Lokal
Dalam enam bulan terakhir sejak dibuka untuk umum dan mulai menerapkan tiket masuk, Taman Wisata Nanga Sirah telah menyumbang Pendapatan Asli Desa (PAD) sekitar Rp6 juta. Meski masih dalam tahap awal, pemerintah desa menilai tren kunjungan menunjukkan peningkatan, terutama pada akhir pekan dan hari libur.
Pemerintah desa juga berencana mengembangkan sektor kuliner dengan melibatkan nelayan lokal, khususnya dari Labuan Sawo. Hasil tangkapan ikan diharapkan dapat dipasarkan langsung di area wisata untuk menggerakkan UMKM setempat.
“Kami ingin UMKM hidup di sini. Lapak-lapak sudah mulai disiapkan, baik di area pantai maupun di pintu masuk,” kata Kepala Desa.
Rencana Pengembangan: Homestay hingga Wisata Bahari
Ke depan, pemerintah desa menargetkan pembangunan sejumlah fasilitas tambahan, antara lain gazebo, kolam pemancingan, wahana permainan anak, serta tambatan perahu. Tambatan ini diproyeksikan mendukung paket wisata bahari menuju destinasi seperti Pulau Moyo, Tanjung Pasir, hingga wisata hiu paus melalui kerja sama antarwilayah.
Selain itu, desa juga merencanakan pembangunan empat hingga lima unit homestay di sekitar bantaran sungai sebagai penunjang wisata. Target tersebut diupayakan dapat terealisasi dalam dua tahun masa jabatan Kepala Desa yang tersisa, meskipun sebagian pembangunan dilakukan melalui swadaya dan gotong royong masyarakat.
Tantangan: Perawatan dan Inovasi
Sebagai destinasi berbasis kayu di kawasan mangrove, perawatan menjadi tantangan tersendiri karena material rentan lapuk. Pemerintah desa menekankan pentingnya pemeliharaan rutin serta inovasi berkelanjutan agar wisata tidak menimbulkan kejenuhan.
“Kebersihan menjadi prioritas utama. Sampah adalah hal yang paling tidak disukai wisatawan. Selain itu, harus selalu ada inovasi agar pengunjung tertarik datang kembali,” ujarnya.
Beberapa pengunjung tercatat telah datang berulang kali, menunjukkan potensi daya tarik kawasan ini jika dikelola secara konsisten.
Harapan Dukungan Pemerintah Daerah
Meski telah menunjukkan perkembangan positif, pemerintah desa mengakui keterbatasan anggaran menjadi kendala utama dalam percepatan pengembangan. Karena itu, pihak desa berharap adanya dukungan lebih lanjut dari pemerintah kabupaten maupun provinsi.
Menurut Kades Aho, pengembangan Taman Wisata Nanga Sirah tidak hanya berorientasi pada sektor ekonomi, tetapi juga pada pelestarian lingkungan. Hutan mangrove dinilai memiliki peran penting sebagai penyangga ekosistem dan “paru-paru” kawasan pesisir yang perlu dijaga keberlanjutannya.
Dengan pendekatan kolaboratif antara pemerintah desa, masyarakat, dan dukungan pemerintah daerah, Taman Wisata Nanga Sirah diharapkan dapat tumbuh sebagai destinasi ekowisata berkelanjutan sekaligus penggerak ekonomi lokal di Kabupaten Sumbawa.
Reporter: Saka-1
Editor: Redaksi SakaNTB.com





