Bunda PAUD Sumbawa Tekankan Peran Guru PAUD dalam Lindungi Anak dari Kekerasan

Sumbawa Besar, SakaNTB.com| 2 Oktober 2025 –- Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) memiliki peran krusial sebagai garda terdepan dalam mendeteksi dan melindungi anak dari tindak kekerasan. Hal tersebut ditegaskan Bunda PAUD Kabupaten Sumbawa, Hj. Ida Fitria Syarafuddin Jarot, SE, saat membuka Pelatihan Manajemen Penanganan Kasus Kekerasan terhadap Anak di Hotel Dewi, Selasa (30/9/2025).

Pelatihan yang digagas Dinas P2KBP3A Kabupaten Sumbawa ini menghadirkan narasumber dr. Hj. Nieta Aryani serta Tati Haryati, S.Psi., M.M., dan diikuti praktisi perlindungan anak, pengelola UPT, staf Bidang Perlindungan Perempuan dan Anak, serta para pendidik PAUD.

Bacaan Lainnya

Dalam sambutannya, Bunda PAUD menegaskan bahwa isu perlindungan anak bukan sekadar wacana, melainkan tanggung jawab bersama. Guru PAUD, menurutnya, adalah pihak pertama yang berhadapan langsung dengan anak sehingga memiliki posisi strategis untuk mendeteksi tanda-tanda awal kekerasan.

“Anak yang tiba-tiba murung, enggan berpisah dari guru, atau sering menggambar dengan tema ketakutan bisa menjadi sinyal adanya masalah serius. Kepekaan guru dapat menjadi kunci penyelamatan anak,” ujarnya.

Ia mencontohkan sebuah kasus di Surabaya, di mana kejelian seorang guru TK mencatat perubahan perilaku siswanya hingga berhasil menyelamatkan anak tersebut dari kekerasan. “Itu membuktikan, kepedulian guru dapat menyelamatkan masa depan seorang anak,” tambahnya.

Melalui pelatihan ini, peserta dibekali pemahaman menyeluruh terkait manajemen penanganan kasus, mulai dari pelaporan, pendampingan, layanan kesehatan dan psikologis, hingga proses rehabilitasi. Menurut Bunda PAUD, respons awal terhadap korban harus penuh empati, bukan tuduhan.

“Mereka membutuhkan ruang aman, sapaan lembut, serta jaminan ada orang dewasa yang siap melindungi,” tegasnya.

Selain itu, ia juga menekankan pentingnya sinergi lintas sektor. Guru PAUD perlu mengetahui jalur koordinasi yang jelas, mulai dari kontak UPT PPA, mekanisme pengaduan, hingga layanan konseling psikologis. “Teknologi bisa mempercepat laporan, tapi empati manusia tetap menjadi inti perlindungan anak,” katanya.

Bunda PAUD berharap, ilmu yang diperoleh peserta tidak berhenti di ruang pelatihan. Ia mendorong agar setiap satuan PAUD membentuk tim kecil, melakukan simulasi penanganan kasus, dan menyusun modul edukasi untuk orang tua. “Kita mungkin bukan ahli hukum atau psikolog, tetapi kita bisa menjadi bagian dari jejaring perlindungan anak,” tutupnya.

Usai pembukaan, acara dilanjutkan dengan pemaparan materi. Dr. Hj. Nieta Aryani menyoroti pentingnya penguatan fungsi keluarga dalam pencegahan kekerasan, sementara Tati Haryati, S.Psi., M.M., menjelaskan strategi manajemen penanganan kasus kekerasan terhadap anak di Kabupaten Sumbawa.

Reporter: Saka-1

Editor: Redaksi SakaNTB.com

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *