Festival Melala Semarakkan Sambut Tahun Baru Islam, Tradisi Tau Samawa Didorong Jadi Agenda Tahunan

SUMBAWA BESAR, SakaNTB.com| 16 Juni 2026— Ratusan warga memadati Rumah Aspirasi H. Johan Rosihan di Sumbawa Besar, Senin (15/6/2026) malam, untuk mengikuti Festival Melala, sebuah tradisi budaya khas Tau Samawa yang digelar dalam rangka menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah.

Festival tersebut menghadirkan sejumlah sandro (tokoh pengobatan tradisional) dari berbagai kecamatan di Kabupaten Sumbawa yang secara bersama-sama meracik minyak Melala dari beragam bahan alami. Kegiatan ini juga dimeriahkan penampilan Majelis Taklim PKK Kelurahan Pekat serta seniman daerah Arief Sakeco.

Bacaan Lainnya

Sejumlah tokoh daerah turut hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Ketua DPRD Kabupaten Sumbawa, Nanang Nasiruddin, SAP, M.M Inov, para wakil ketua DPRD, pimpinan komisi dan fraksi, tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta kalangan pemuda.

Dalam sambutannya, Ketua DPRD Kabupaten Sumbawa, Nanang Nasiruddin, menegaskan bahwa tradisi Melala memiliki keterkaitan erat dengan kelestarian lingkungan, khususnya kawasan hutan yang menjadi sumber berbagai bahan ramuan tradisional.

Menurutnya, keberadaan hutan perlu dijaga agar ketersediaan tanaman obat dan bahan-bahan alami yang menjadi bagian dari tradisi Melala tetap lestari.

“Melala merupakan bagian dari warisan adat masyarakat Sumbawa yang memanfaatkan berbagai ramuan alami dari hutan. Karena itu, menjaga kelestarian hutan menjadi tanggung jawab bersama agar tradisi ini dapat terus diwariskan kepada generasi mendatang,” ujarnya.

Nanang juga mengungkapkan komitmen DPRD untuk mendorong lahirnya regulasi yang dapat memperkuat pelestarian tradisi daerah. Salah satu upaya yang akan dikaji adalah penyusunan Peraturan Daerah (Perda) yang memberikan dukungan terhadap penyelenggaraan kegiatan adat dan budaya di Kabupaten Sumbawa.

Sementara itu, Anggota DPR RI asal Daerah Pemilihan NTB I Pulau Sumbawa, H. Johan Rosihan, ST mengatakan Festival Melala diharapkan dapat menjadi agenda tahunan yang memperkuat identitas budaya masyarakat Tau Samawa.

Menurutnya, pelestarian tradisi tidak hanya penting sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai sarana menumbuhkan rasa memiliki dan kebanggaan terhadap jati diri masyarakat Sumbawa.

“Melala merupakan bagian dari identitas Tau Samawa yang perlu terus dijaga dan diwariskan. Melalui festival ini, kami ingin membangun kesadaran kolektif agar masyarakat semakin mengenal, mencintai, dan melestarikan tradisi leluhur,” katanya.

Johan menambahkan, tradisi Melala juga mencerminkan hubungan erat antara budaya masyarakat dengan kelestarian alam. Sebagian besar bahan yang digunakan dalam ritual tersebut berasal dari kawasan hutan sehingga keberlanjutannya sangat bergantung pada upaya menjaga lingkungan.

Festival Melala tahun ini tidak hanya menjadi momentum menyambut datangnya Tahun Baru Islam, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkuat nilai-nilai budaya, meningkatkan kesadaran lingkungan, serta meneguhkan identitas masyarakat Tau Samawa di tengah arus modernisasi.

Dengan antusiasme masyarakat yang tinggi, kegiatan tersebut diharapkan menjadi salah satu agenda budaya yang terus berkembang dan memberikan kontribusi bagi pelestarian kearifan lokal Kabupaten Sumbawa.

Reporter: Saka-1

Editor: Redaksi SakaNTB.com

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *