SUMBAWA BESAR, SakaNTB.com| 20 Agustus 2026— Persoalan pemerataan akses pendidikan menengah masih menjadi salah satu tantangan yang dihadapi Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB). Kondisi geografis dan keterbatasan jumlah sekolah menengah atas (SMA) di sejumlah wilayah membuat proses penerimaan peserta didik baru kerap memunculkan persoalan, terutama di wilayah yang berdekatan dengan pusat Kota Sumbawa.
Kepala SMAN 3 Sumbawa, Agus Surya Pratama, S.Pd., mengatakan ketimpangan persebaran sekolah menjadi salah satu faktor yang membuat persaingan penerimaan peserta didik semakin ketat setiap tahun.
Menurutnya, sejumlah kecamatan di sekitar wilayah Sumbawa, seperti Moyo Hilir, Labuhan Badas, dan Batulanteh, memiliki keterbatasan akses terhadap SMA. Kondisi tersebut membuat lulusan SMP dari wilayah-wilayah itu cenderung memilih sekolah yang berada di kawasan perkotaan.
“Posisi wilayah yang luas dan tidak semua kecamatan memiliki SMA membuat persoalan zonasi dan penerimaan siswa baru setiap tahun menjadi tantangan tersendiri,” ujar Agus.
Ia mencontohkan kawasan Pelabuhan Badas hingga wilayah perbatasan dengan kecamatan lain yang memiliki jarak cukup jauh dari sekolah SMA. Akibatnya, sebagian siswa harus menempuh perjalanan relatif jauh untuk bersekolah.
Kondisi serupa juga dirasakan siswa dari wilayah Batulanteh dan sejumlah daerah lainnya. Menurut Agus, faktor jarak dan kondisi geografis perlu menjadi pertimbangan dalam penyusunan kebijakan penerimaan siswa agar akses pendidikan tidak hanya mempertimbangkan aspek administratif, tetapi juga kondisi nyata di lapangan.
Persaingan Sekolah di Perkotaan
Agus menyebutkan, tingginya jumlah lulusan SMP yang ingin melanjutkan pendidikan ke SMA di wilayah perkotaan tidak sebanding dengan daya tampung sekolah.
“Kalau kita hitung, lulusan dari beberapa kecamatan itu bertemu dan memperebutkan sekolah yang jumlahnya terbatas. Tentu ada sekolah yang menjadi pilihan utama sehingga terjadi penumpukan,” katanya.
Menurut dia, persoalan tersebut tidak semata-mata dapat dibebankan kepada sekolah. Diperlukan kebijakan pemerintah yang mempertimbangkan pertumbuhan jumlah lulusan, persebaran penduduk, daya tampung sekolah, serta kondisi geografis setiap wilayah.
Ia juga menyinggung rencana pengembangan pendidikan kejuruan seiring dengan potensi pertambangan di wilayah selatan Sumbawa. Namun, perubahan fungsi sekolah maupun pembangunan fasilitas pendidikan baru membutuhkan proses dan perencanaan yang matang.
“Kalau ingin membangun atau mengubah sekolah, tentu tidak bisa dilakukan seketika. Fasilitas, lokasi, kebutuhan masyarakat, dan minat siswa harus diperhitungkan,” ujarnya.
Dorong Sinergi Antar-Pemangku Kepentingan
Di tengah berbagai persoalan tersebut, Agus berharap sinergi antara sekolah, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, kantor cabang dinas, serta pihak-pihak terkait dapat terus diperkuat.
Menurutnya, pembangunan pendidikan merupakan tanggung jawab bersama. Tidak hanya menyangkut penyediaan ruang kelas dan tenaga pendidik, tetapi juga bagaimana memastikan anak-anak di daerah memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan berkualitas.
“Kami berharap sinergi dengan semua pihak terus dibangun untuk menyiapkan generasi muda Sumbawa agar lebih baik ke depan,” katanya.
Agus juga berharap tradisi prestasi pelajar NTB di tingkat nasional dapat terus ditingkatkan. Menurutnya, prestasi tersebut penting sebagai motivasi bagi siswa sekaligus menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia daerah.
Di sisi lain, angka keberlanjutan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi masih menjadi pekerjaan rumah. Ia menilai kondisi ekonomi masyarakat menjadi salah satu faktor yang perlu mendapatkan perhatian.
Karena itu, ia mendorong adanya program yang dapat membuka lebih banyak kesempatan bagi lulusan SMA dan SMK untuk melanjutkan pendidikan, baik melalui perguruan tinggi negeri maupun swasta, maupun melalui jalur pendidikan dan pelatihan lainnya.
“Dengan kondisi ekonomi saat ini, kita harus membuka sebanyak mungkin peluang bagi anak-anak untuk melanjutkan pendidikan. Ini bukan hanya pekerjaan Dinas Pendidikan, tetapi PR bersama seluruh pihak,” tegasnya.
Agus menambahkan, jumlah peserta didik SMA dan SMK di NTB terus berkembang setiap tahun. Pertumbuhan tersebut harus diantisipasi dengan perencanaan pendidikan yang lebih baik agar kapasitas sekolah, kualitas pembelajaran, dan akses pendidikan dapat berjalan seimbang.
Ia berharap NTB tetap mampu mempertahankan posisi sebagai salah satu daerah yang serius membangun sektor pendidikan, sekaligus terus meningkatkan kualitas dan prestasi pelajarnya.
“Harapan saya, pendidikan NTB tetap menjadi prioritas. Kita ingin aksesnya semakin merata, kualitasnya semakin baik, dan prestasi anak-anak kita di tingkat nasional terus meningkat,” pungkasnya.
Reporter: Saka-1
Editor: Redaksi SakaNTB.com





