SUMBAWA BESAR, SakaNTB.com| 20 Agustus 2026— SMA Negeri 3 Sumbawa memilih pendekatan pembatasan ketimbang pelarangan total penggunaan telepon seluler (HP) bagi siswa di lingkungan sekolah. Kebijakan tersebut disertai dorongan agar gawai dimanfaatkan untuk kegiatan yang mendukung pembelajaran dan pengembangan kompetensi.
Kepala SMA Negeri 3 Sumbawa, Agus Surya Pratama, S.Pd., mengatakan penggunaan HP oleh siswa dalam aktivitas sehari-hari di sekolah tidak diperbolehkan. Namun, sekolah tetap memberikan ruang penggunaan gawai untuk kepentingan tertentu dengan terlebih dahulu meminta izin kepada guru.
“Untuk sehari-hari tidak diperbolehkan. Kecuali memang untuk kepentingan tertentu, sebelumnya harus meminta izin kepada guru,” kata Agus dalam wawancara, Kamis (20/8/2026).
Menurut Agus, pengawasan penggunaan gawai tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada sekolah. Peran orang tua di rumah juga dinilai penting untuk memastikan fasilitas teknologi yang diberikan kepada anak digunakan secara bertanggung jawab.
Ia mengatakan perkembangan teknologi perlu diimbangi dengan pengawasan terhadap pergaulan dan aktivitas anak, baik di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah.
“Kami berharap jangan hanya sekolah ini sebagai titipan, tetapi orang tua dan stakeholder yang ada juga ikut bersama-sama menjaga,” ujarnya.
Tak Sekadar Membatasi
Agus menilai pembatasan HP seharusnya tidak berhenti pada upaya menjauhkan siswa dari gawai. Teknologi, kata dia, justru dapat menjadi sarana untuk meningkatkan kemampuan siswa apabila digunakan secara tepat.
Salah satu bidang yang dinilai potensial adalah jurnalistik. Siswa dapat diarahkan menggunakan perangkat digital untuk belajar menulis artikel, membuat karya ilmiah, hingga mengembangkan kemampuan literasi.
“HP bisa digunakan sebagai media untuk mereka mengisi ruang waktu dan meningkatkan kompetensi. Terutama jurnalistik, penulisan artikel, dan karya ilmiah,” katanya.
Dalam konteks tersebut, Agus berharap insan pers ikut mengambil bagian dalam memberikan pemahaman kepada siswa mengenai jurnalistik dan keterampilan menulis.
Menurutnya, keterampilan tersebut bukan hanya bermanfaat dalam kegiatan perlombaan, tetapi juga dapat membangun kemampuan berpikir kritis, mengolah informasi, dan menyampaikan gagasan secara bertanggung jawab.
Dorong Prestasi dan Akses Perguruan Tinggi
Pengembangan kompetensi siswa juga tidak terlepas dari target sekolah untuk meningkatkan prestasi akademik maupun nonakademik.
Agus mengatakan sekolah perlu memberikan lebih banyak ruang bagi siswa untuk mengikuti berbagai kompetisi. Prestasi yang diperoleh diharapkan dapat menjadi modal tambahan bagi siswa dalam melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Ia menilai siswa SMA pada dasarnya dipersiapkan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Karena itu, sekolah harus mendorong sebanyak mungkin lulusan agar memiliki kesempatan melanjutkan kuliah.
“Fungsi utama SMA adalah bagaimana menghasilkan anak-anak itu melanjutkan pendidikan lebih tinggi,” ujarnya.
Agus berharap kolaborasi antara sekolah, orang tua, pemerintah, masyarakat, dan media dapat terus diperkuat. Dengan demikian, pembatasan penggunaan HP tidak semata-mata menjadi kebijakan untuk mengendalikan siswa, tetapi menjadi bagian dari upaya membangun pola penggunaan teknologi yang sehat, produktif, dan mendukung masa depan pelajar Sumbawa.
Bagi sekolah, tantangannya bukan hanya bagaimana mengurangi penggunaan HP yang tidak diperlukan, tetapi juga memastikan teknologi tersebut dapat menjadi alat belajar dan berkarya, bukan justru menjadi penghambat perkembangan siswa.
Reporter: Saka-1
Editor: Redaksi SakaNTB.com





