By : BM
Saya bersyukur bisa melihat kondisi Sumbawa hari ini. Memori masih kuat terekam.
Pada Jumat sore (11/9) ba’da Ashar, saya berkesempatan hadiri acara doa buat almarhum adinda dan sahabat seperjuangan saya H. Assaat Abdullah. Haru, tapi juga membalikkan memori masa lalu.
Teringat situasi seperti ini: dipanggil menghadap top pimpinan daerah, dikasih misi besar untuk menyulap kota jadi terang benderang dan super bersih dalam waktu enam bulan. Tapi di akhir penugasannya, beliau menambahkan: “Oh ya, jangan pakai dana anggaran daerah (APBD) sama sekali. Ingat itu!” 😅
Pusing? Sudah pasti. Tapi itulah tantangan nyata yang saya hadapi di tahun 1990 bersama dua sahabat baik saya, Pak Mustakim Minggu dan almarhum adinda Asaat Abdullah, ketika dipanggil langsung oleh Bupati Sumbawa, H. Jakub Koswara.
Sebagai tim teknis, kami tidak punya waktu untuk mengeluh. Selain berpikir sambil bekerja dan bekerja sambil berpikir. Di bawah waktu evaluasi yang cuma 3 bulan, kami langsung putar otak.
Modalnya nol rupiah dari pemerintah, tapi kami punya modal yang jauh lebih besar: Kekompakan, Gotong Royong, dan tekad untuk perubahan! 🙌
Strategi nekat tapi terukur pun kami jalankan:
1. Ketuk Pintu Swasta: Kami datangi pemilik toko, pengusaha, dan organisasi profesi. Hasilnya? Mereka patungan menyumbang hingga ratusan lampu merkuri yang waktu itu tergolong wah. Kota Sumbawa yang tadinya gelap langsung gemerlap!
2. Sentuhan Estetika: Teman-teman teknisi Dinas PU turun tangan mendesain ulang titik-titik krusial kota. Mulai dari Taman Tugu simpang Polres Sumbawa, Taman persimpangan depan PLN, Simpang Karang Pekat, sampai Taman depan Bandara Sumbawa. Seluruh simpang strategis kota tertangani.
3. Gerakan Wali Kebersihan: Ini dia kuncinya! Untuk memimpin eksekusi lapangan, kami mendaulat Camat Sumbawa sebagai “Wali Kebersihan Kota”. Sinergi ini diperkuat dengan memberikan tugas khusus kepada Pak Lurah untuk mengawasi ketat kebersihan di wilayah masing-masing. Awalnya sempat ragu, tapi begitu Pak Bupati kasih komando, semua kompak bergerak serentak. Siap!
Pada malam-malam tertentu, kami sering mendampingi pak Bupati yang murah senyum ini, dan menahkodai sumbawa selama dua periode sejak 1989, keliling memasuki lika-liku perkampungan untuk menyapa dan memotivasi warga.
Hasilnya? Luar biasa!
Zona kumuh di dalam kota langsung lenyap.Wajah kota berubah bersih dan tambah asri. Semua spanduk, baliho, hingga papan reklame liar yang bikin pemandangan dan fasad kota semrawut ditertibkan total. Puncaknya… Kota Sumbawa Besar sukses menyabet penghargaan bergengsi sebagai KOTA ADIPURA selama tiga tahun berturut-turut! 🏆🏆🏆
💡
LALU, BAGAIMANA DENGAN ERA KEKINIAN?
Zaman tentu sudah berubah, tantangan kota hari ini jelas berbeda, dan atmosfer sosial politik pun sudah jauh bergeser. Teknologi sudah menjadi denyut nadi kreatifitas dan inovasi.
Namun, apakah cerita tahun 1990-an ini masih relevan?
Tentu saja masih sangat relevan. Esensi dari sebuah perubahan tidak pernah berubah: butuh sinergi, butuh kepedulian bersama, dan butuh passion terhadap keindahan.
Ada nilai: kebersamaan dan tekad mau berubah!
Kini, estafet perjuangan itu berada di tangan generasi baru. Teman-teman saya yang segar bugar. Anak-anak saya yang punya kapasitas mumpuni terhadap rekayasa dan teknologi. Semua kembali kita serahkan kepada mereka yang saat ini sedang memegang amanah. Tau bajatu!
Harapan kita semua tentu sama: melihat Sumbawa Besar tetap asri, bersih, dan terus bersinar di tengah dinamika zaman yang baru. Menjadi kota yang menginspirasi warganya.
Kalau tahun 1990 saja kita bisa bikin Sumbawa bersinar tanpa APBD, mari kita dukung dan semangati para pemegang amanah hari ini untuk membawa kota kita tercinta jauh lebih baik lagi. Sebuah kota yang tetap berkiprah sesuai predikat BESAR di namanya. [BM] ❤️





