SUMBAWA BESAR, SakaNTB.com| 27 Agustus 2026 — Pemerintah Kabupaten Sumbawa memperkuat kolaborasi lintas sektor melalui Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting). Upaya tersebut dibahas dalam pertemuan lintas sektor yang digelar di Ruang Rapat Bapperida Kabupaten Sumbawa, Kamis (27/8/2026).
Pertemuan ini menjadi bagian dari upaya memperluas keterlibatan masyarakat dan berbagai pemangku kepentingan dalam membantu keluarga yang berisiko mengalami stunting, khususnya melalui dukungan pemenuhan gizi, akses air bersih, serta edukasi kepada keluarga.
Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) Kabupaten Sumbawa, Junaedi, S.Si., Apt., M.Si., menyampaikan bahwa penanganan stunting tidak dapat hanya mengandalkan intervensi pemerintah. Diperlukan keterlibatan berbagai unsur masyarakat secara berkelanjutan.
Menurutnya, kondisi stunting di Sumbawa masih menjadi tantangan yang perlu mendapat perhatian bersama. Ia merujuk pada hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2024 yang menunjukkan prevalensi stunting di daerah tersebut masih berada pada angka yang perlu ditekan.
Di sisi lain, persoalan stunting juga berkaitan erat dengan agenda pembangunan sumber daya manusia. Sumbawa, kata dia, memiliki proporsi penduduk usia produktif yang besar. Kondisi tersebut menjadi peluang dalam mewujudkan bonus demografi, tetapi harus dibarengi dengan peningkatan kualitas kesehatan dan kapasitas sumber daya manusia.
“Harapan kita bersama, anak-anak yang ada sekarang dapat tumbuh menjadi sumber daya manusia yang sehat, berprestasi, berakhlak, dan mampu berkontribusi bagi Indonesia Emas 2045,” ujarnya dalam pertemuan tersebut.
Melalui program Genting, pemerintah mendorong keterlibatan lebih luas dari unsur masyarakat, dunia usaha, BUMN, BUMD, perguruan tinggi, organisasi masyarakat, lembaga swadaya masyarakat, hingga media.
Dukungan yang diberikan tidak terbatas pada bantuan makanan. Bentuk intervensi dapat disesuaikan dengan kebutuhan keluarga sasaran, antara lain bantuan bahan pangan bergizi, dukungan pemenuhan kebutuhan dasar, akses air bersih, serta edukasi mengenai pola asuh dan pemenuhan gizi.
Sasaran utama gerakan tersebut adalah keluarga yang memiliki risiko stunting, termasuk ibu hamil, ibu menyusui, serta keluarga yang memiliki balita.
Junaedi berharap gerakan ini dapat diperkuat hingga tingkat kecamatan dan desa sehingga bantuan yang diberikan benar-benar menyasar keluarga yang membutuhkan.
“Kalau bukan kita yang bergerak, siapa lagi? Karena itu, kita perlu bergerak bersama-sama,” katanya.
Dalam pertemuan tersebut, pemerintah daerah juga membuka peluang kolaborasi dengan sejumlah mitra, termasuk Bank NTB, perguruan tinggi, dan pihak lainnya. Perguruan tinggi, misalnya, didorong untuk berkontribusi melalui kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) tematik yang dapat diarahkan pada edukasi dan pendampingan keluarga berisiko stunting.
Kolaborasi tersebut diharapkan tidak berhenti pada pemberian bantuan, tetapi berkembang menjadi pendampingan yang terarah dan berkelanjutan. Dengan demikian, keluarga sasaran tidak hanya memperoleh dukungan pemenuhan kebutuhan jangka pendek, tetapi juga memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk meningkatkan kualitas kesehatan serta pengasuhan anak.
Penguatan Genting di tingkat daerah sekaligus menegaskan bahwa percepatan penurunan stunting merupakan tanggung jawab bersama. Pemerintah berperan sebagai penggerak dan koordinator, sementara masyarakat, dunia usaha, perguruan tinggi, organisasi sosial, serta berbagai mitra pembangunan dapat mengambil bagian sesuai kapasitas masing-masing.
Melalui pendekatan gotong royong tersebut, Pemerintah Kabupaten Sumbawa berharap upaya pencegahan stunting dapat dilakukan lebih terarah, tepat sasaran, dan berkelanjutan demi menyiapkan generasi Sumbawa yang sehat dan berkualitas.
Reporter: Saka-1
Editor Redaksi SakaNTB.com





