Sumbawa Besar, SakaNTB.com– Di balik hamparan alam Sumbawa yang kaya, rusa bukan sekadar hewan liar, rusa (mayung) adalah bagian dari identitas budaya yang hidup di tengah masyarakat. Keberadaannya bukan hanya memperkaya keanekaragaman hayati, tetapi juga menjadi simbol hubungan harmonis antara manusia dan alam yang telah berlangsung secara turun-temurun.
Kini, dengan semangat pelestarian dan visi jangka panjang, wacana relokasi rusa kembali mengemuka. Tujuannya bukan semata memindahkan lokasi habitat, melainkan memastikan keberlanjutan populasi serta menciptakan ruang baru yang ramah lingkungan dan berpotensi menjadi aset wisata.
Tokoh muda Sumbawa, Alwan Hidayat, S.Pd.I., N.L.P., menyambut baik gagasan ini. Menurutnya, relokasi rusa harus dipandang sebagai bagian dari strategi konservasi yang berkelanjutan, dengan mempertimbangkan nilai budaya serta potensi edukatif dan ekonomi bagi masyarakat.
“Rusa adalah simbol hidup dari sejarah dan jati diri masyarakat Sumbawa. Relokasi yang dilakukan dengan pendekatan tepat bisa menjadi momentum untuk menjaga ekosistem sekaligus membangkitkan pariwisata lokal,” ujar Alwan.
Salah satu lokasi strategis yang diajukan adalah kawasan pembangunan Batalyon TNI. Selain letaknya yang mudah diakses, kehadiran aparat dinilai dapat memberikan jaminan keamanan ekstra terhadap satwa.
“Dengan pengawasan ketat dan sistem kandang bertema konservasi, lokasi ini bisa dikembangkan sebagai pusat edukasi lingkungan dan tujuan wisata yang unik,” tambah Alwan.
Ia menekankan pentingnya standar tinggi dalam pembangunan kandang, mulai dari desain pagar pengaman hingga penyediaan ruang gerak yang memadai bagi rusa. Konsep ini tak hanya menjaga kelestarian satwa, tetapi juga membuka peluang wisata berbasis konservasi yang mengangkat kembali nilai sejarah rusa.
Terkait usulan pemindahan ke Pulau Moyo, Alwan memberi catatan penting. Meski kawasan itu dikenal sebagai wilayah lindung, ia menilai bahwa aspek keamanan dan kesiapan infrastruktur masih perlu dikaji lebih dalam.
“Kita harus berhati-hati. Jangan sampai niat baik justru menimbulkan risiko baru. Alternatif seperti kawasan Kerekeh, yang berdekatan dengan lokasi Batalyon, bisa lebih menjanjikan secara jangka panjang,” jelasnya.
Alwan juga menekankan bahwa relokasi bukan akhir dari proses, melainkan awal dari perjalanan panjang pelestarian rusa sebagai bagian dari warisan budaya Sumbawa.
“Ini lebih dari sekadar langkah teknis. Kita sedang membangun narasi baru—bahwa rusa bukan hanya bagian dari masa lalu, tetapi juga elemen penting dalam pembangunan masa depan yang berkelanjutan,” tutupnya. (Saka-1)





