Sumbawa Besar, SakaNTB.com| 17 Oktober 2025 | Upaya percepatan penurunan stunting di Kabupaten Sumbawa kembali menjadi perhatian serius. Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Kabupaten Sumbawa menggelar Rapat Monitoring Triwulan I Tahun 2025 di Aula Bappeda Sumbawa, Rabu (16/10).
Kegiatan ini dirangkaikan dengan Aksi Analisis Situasi Pencegahan dan Percepatan Penurunan Stunting, serta dihadiri oleh sejumlah kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait.
Angka Stunting Meningkat, Pemerintah Daerah Evaluasi Serius
Dalam laporannya, Kepala Dinas P2KBP3A Kabupaten Sumbawa sekaligus Sekretaris TPPS, Junaedi, S.Si.A.Pt., M.Si, menyampaikan keprihatinan atas peningkatan angka stunting dari 25,7 persen pada 2023 menjadi 29,8 persen di tahun 2024.
Menurutnya, kondisi ini menjadi alarm bagi semua pihak untuk bekerja lebih cepat dan terarah.
“Balita yang kita rawat hari ini adalah generasi produktif tahun 2045. Jika gagal mencegah stunting, kita kehilangan kesempatan menjadi bangsa maju,” tegasnya.
Junaedi menambahkan, isu stunting telah menjadi program prioritas dalam RPJMD Kabupaten Sumbawa, yang menjadi acuan penting dalam perencanaan, penganggaran, dan pelaksanaan program lintas sektor.
Perlu Sinkronisasi Program dengan Dokumen Perencanaan Daerah
Rusmayadi, S.Kep.Ns., M.P.H, Kepala Bidang Pemerintahan dan Pembangunan Manusia Bappeda Sumbawa, menekankan pentingnya sinkronisasi antara program penurunan stunting dengan dokumen perencanaan pembangunan daerah seperti RPJMD dan Renstra OPD.
“Keberhasilan penurunan stunting tidak bisa dicapai secara sektoral. Semua kegiatan harus terintegrasi dan memiliki pijakan kuat dalam dokumen perencanaan daerah,” ujarnya.
Menurutnya, tanpa dasar perencanaan yang jelas, banyak program berisiko tidak dapat direalisasikan secara optimal.
Efisiensi dan Edukasi Jadi Fokus Dinas Kesehatan
Dari sisi teknis, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa, Sarip Hidayat, S.KM., M.PH, menegaskan pentingnya efisiensi penggunaan anggaran dan perluasan jangkauan layanan diagnosis stunting.
Ia mencontohkan, dengan alokasi Rp39 juta, intervensi bisa menjangkau hingga 200 anak berisiko stunting, bukan hanya 20 anak sebagaimana sebelumnya.
“Pencegahan jauh lebih baik dan lebih murah dibanding penanganan anak yang sudah terdiagnosis stunting,” jelasnya.
Sarip juga mengingatkan pentingnya peran orang tua dalam mendukung imunisasi anak, karena imunisasi menjadi langkah awal mencegah gangguan tumbuh kembang.
“Kami berharap orang tua mendukung penuh imunisasi agar anak tumbuh sehat dan terhindar dari stunting,” tambahnya.
Komitmen Bersama untuk Generasi Emas 2045
Rapat tersebut menegaskan kembali komitmen seluruh unsur pemerintah daerah dalam memperkuat kolaborasi lintas sektor, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi program.
TPPS Sumbawa bertekad menurunkan angka stunting secara signifikan melalui intervensi gizi spesifik dan sensitif, serta penguatan koordinasi antara pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat.
Melalui langkah terpadu ini, Pemerintah Kabupaten Sumbawa berharap target penurunan stunting dapat tercapai sebagai investasi bagi generasi emas Indonesia tahun 2045.
Reporter: Saka-1
Editor: Redaksi SakaNTB.com





