Sumbawa Siapkan 2.000 Hektare Lahan, Bidik Jadi Lumbung Garam Nasional 2027

Sumbawa Besar, SakaNTB.com| 20 November 2025— Kabupaten Sumbawa kian serius mengambil peran dalam mendukung target swasembada garam nasional pada 2027. Meskipun produksi garam daerah saat ini masih terbatas, potensi pengembangannya dinilai sangat besar.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Sumbawa, Rahmat Hidayat, mengungkapkan bahwa produksi garam tertinggi yang pernah dicapai Sumbawa mencapai sekitar 6.000 ton per tahun. Produksi itu bersumber dari sejumlah wilayah eksisting, seperti Desa Labuan Bontong Kecamatan Tarano, Desa Sepayung Kecamatan Plampang, Desa Labuan Kuris Kecamatan Lape, dan Desa Labuan Bajo Kecamatan Utan.

Bacaan Lainnya

Di antara lokasi tersebut, Desa Labuan Kuris telah memiliki koperasi garam rakyat yang mampu menghasilkan garam beryodium. Namun kapasitas produksinya baru sekitar 1.500 ton per tahun dan masih perlu ditingkatkan.

Untuk mendorong percepatan, Pemkab Sumbawa telah menyiapkan lahan cadangan sekitar 2.000 hektare sebagai area ekstensifikasi usaha garam. Lahan itu dinilai sangat ideal karena bertopografi landai dan dekat dengan akses air laut saat pasang.

“Ada beberapa opsi tata kelola yang akan dibahas lebih lanjut bersama pihak terkait. Apakah skema sewa lahan, bagi hasil, atau bahkan akuisisi. Prinsipnya harus saling menguntungkan bagi pemilik lahan, pengelola, dan pemerintah daerah,” ujar Rahmat, Rabu (19/11).

Ia menegaskan bahwa sebelum pembangunan dilakukan, tahap awal yang wajib dilaksanakan adalah studi kelayakan (FS) dan kajian teknis, termasuk penyusunan dokumen AMDAL.

“Tanah yang terlalu berpasir atau poros tidak cocok untuk teknologi evaporasi. Maka perlu kajian teknis untuk memastikan lokasi benar-benar siap dikembangkan,” jelasnya.

Sejalan dengan program strategis nasional (PSN), Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) telah melakukan uji coba pemodelan garam di sejumlah titik. Pada 2026 mendatang, PSN sektor garam tersebut direncanakan akan direalisasikan di Kecamatan Plampang, meliputi Desa Plampang, Brang Kolong, Sepayung, dan Teluk Santong.

Hasil FS nantinya akan memberikan gambaran detail mengenai kualitas lahan, kebutuhan infrastruktur pendukung, dan estimasi optimalisasi produksi.

Rahmat optimistis pengembangan industri garam di Sumbawa akan berdampak luas bagi masyarakat.

“Selain meningkatkan produksi garam lokal, program ini akan membuka banyak peluang kerja dan investasi serta memberikan nilai tambah ekonomi bagi warga pesisir,” pungkasnya.

Dengan dukungan kuat dari pemerintah pusat, kesiapan lahan, dan partisipasi masyarakat, Sumbawa diproyeksikan menjadi salah satu daerah utama penghasil garam nasional dan berkontribusi terhadap tercapainya swasembada garam Indonesia pada 2027.

Reporter: (Saka-1)

Editor: (Redaksi SakaNTB.com)

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *