Sumbawa Besar, SakaNTB.com| 26 November 2025– Festival Pariri Miri Fest di Desa Lawin, Kecamatan Ropang, tidak sekadar menjadi ruang perayaan budaya. Lebih dari itu, kegiatan ini menegaskan lahirnya harapan baru dari masyarakat Ropang untuk membangun ekonomi hijau berbasis potensi lokal—khususnya kemiri.
Acara yang berlangsung meriah tersebut dihadiri berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, akademisi, pelaku usaha, hingga masyarakat setempat. Semangat kolaborasi untuk mengangkat komoditas kemiri sebagai sumber ekonomi berkelanjutan menjadi sorotan utama.
Kemiri: Dari Tradisi Lokal Menuju Pasar Global
Ketua Panitia Pariri Miri Fest, M. Ikbal, S.Sos., M.M., Inov., menjelaskan bahwa kemiri merupakan komoditas yang memiliki nilai strategis dan peluang pasar internasional. Ia mencontohkan keberhasilan ekspor kemiri NTB ke Arab Saudi dan Jepang, yang kini membuka peluang luas bagi petani Ropang.
“Potensi kemiri Ropang luar biasa. Tugas kita adalah mendampingi, mengembangkan, dan memberi nilai tambah agar mampu menjawab kebutuhan pasar global,” ujarnya.
Ikbal juga memaparkan bahwa Universitas Teknologi Sumbawa (UTS) telah mengirim mahasiswa KKN tematik ke sejumlah desa di Ropang untuk membantu pendampingan, teknologi pengolahan, hingga pengembangan produk turunan kemiri. Bahkan, pemanfaatan limbah kulit kemiri sebagai bahan karbon ramah lingkungan mulai diinisiasi untuk menjawab kebutuhan energi alternatif masyarakat.
Komitmen Desa Lawin: Jadi Sentra Pengembangan Kemiri dan Kopi
Kepala Desa Lawin, Ahdiat Kartamiharja, menegaskan bahwa desanya siap menjadi pusat pengembangan komoditas kemiri dan kopi. Ia mengungkapkan bahwa hanya dua kecamatan—Ropang dan Lantung—yang menjadi wilayah prioritas program agroforestri dan restorasi lahan oleh lembaga pendamping seperti SR, KPP, dan mitra lainnya.
“Target kami adalah menanam 500.000 pohon kemiri dan kopi. Ini langkah besar menuju desa mandiri yang tangguh dari sisi ekonomi dan lingkungan,” jelasnya.
Festival Pariri Miri Fest turut menampilkan tradisi napi mona, sebagai simbol penghormatan terhadap alam dan harapan agar hasil bumi tetap melimpah.
PT Sumbawa Junta Raya: Kemiri sebagai Pohon Kehidupan
Pimpinan PT SJR, Candra Budi Prasetya, menegaskan bahwa kemiri bukan sekadar komoditas, melainkan aset ekologis dan budaya yang wajib dijaga. Perusahaannya, bersama UTS, berkomitmen mendampingi masyarakat dalam pengembangan agroforestri.
“Kemiri adalah pohon kehidupan. Ia menjaga tanah, melindungi mata air, melahirkan manfaat ekonomi, dan mewariskan nilai budaya.” ujarnya.
Ia menyebut bahwa penanaman 6.700 bibit dilakukan sebagai langkah awal menuju kawasan Ropang yang produktif, hijau, dan berkelanjutan.
Candra mengapresiasi pemerintah desa, kecamatan, Pemkab Sumbawa, Pemprov NTB, serta seluruh pihak yang telah berkolaborasi dalam program ini.
Menuju Ekonomi Hijau Ropang
Festival Pariri Miri Fest menandai semangat baru masyarakat Ropang untuk bangkit melalui potensi lokal. Kemiri dan kopi tak lagi sekadar tradisi, tetapi pintu menuju ekonomi hijau yang sejalan dengan program industrialisasi desa dan pemulihan lingkungan.
Dengan kolaborasi pemerintah, perguruan tinggi, perusahaan, dan masyarakat, Ropang diharapkan menjadi salah satu kawasan agroforestri unggulan di Kabupaten Sumbawa menuju daerah yang unggul, maju, dan sejahtera.
Reporter: Saka-1
Editor: Redaksi SakaNTB.com





