Sumbawa Besar, SakaNTB.com| 9 Februari 2026— Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sumbawa bergerak cepat menangani dampak banjir yang melanda Kecamatan Empang setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut selama empat jam, Sabtu (7/2/2026).
Banjir dengan ketinggian air mencapai satu meter merendam permukiman warga, fasilitas umum, serta jalan raya utama di enam desa, yakni Desa Lamenta, Empang Bawah, Empang Atas, Pamanto, Bunga Eja, dan Desa Jotang, khususnya Dusun Tero.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sumbawa, M. Nurhidayat, mengatakan bahwa penanganan dilakukan sejak laporan pertama diterima dari masyarakat. Fokus utama saat banjir terjadi adalah penyelamatan dan evakuasi warga terdampak.
“Langkah pertama yang kami lakukan adalah evakuasi warga. Keselamatan masyarakat menjadi prioritas utama,” ujar Nurhidayat saat mendampingi Bupati Sumbawa meninjau lokasi terdampak banjir, Minggu (8/2/2026).
Setelah kondisi dinyatakan aman, BPBD bersama tim gabungan langsung menyalurkan bantuan logistik darurat berupa makanan siap saji, air bersih, serta kebutuhan dasar lainnya kepada para korban banjir.
“Tim gabungan kami kerahkan untuk mendistribusikan logistik dan membantu warga di lokasi terdampak,” jelasnya.
Seiring surutnya air, BPBD melakukan pendataan kerusakan infrastruktur di desa-desa terdampak. Tim lapangan juga melakukan pengecekan langsung ke aliran sungai, khususnya di titik-titik luapan yang menyebabkan air masuk ke kawasan permukiman.
Hasil investigasi sementara menunjukkan adanya sejumlah kerusakan prioritas, antara lain jalan dan jembatan rusak, pengaman tebing sungai jebol, serta penyempitan dan pendangkalan sungai akibat sedimentasi. Untuk mempercepat penanganan, BPBD menerjunkan sedikitnya tiga tim lapangan.
“Kita akan lakukan perbaikan secepatnya. Insyaallah tahun ini bisa kita kerjakan, karena jika terlambat berpotensi menimbulkan kerusakan yang lebih luas saat bencana kembali terjadi,” tegas Nurhidayat.
Data sementara mencatat sebanyak 1.215 kepala keluarga atau sekitar 3.620 jiwa terdampak banjir. Kerusakan terparah dilaporkan terjadi di Desa Jotang, khususnya Dusun Tero, dengan kerusakan pada jembatan dan badan jalan, serta satu sekolah dasar yang sempat terendam.
Selain penanganan darurat, sejumlah desa mengusulkan pembangunan infrastruktur pengendali banjir, seperti tanggul, pengaman tebing sungai, dan bronjong di sepanjang bantaran sungai, guna mengurangi risiko luapan air saat curah hujan tinggi.
“Kami berkomitmen mempercepat pemulihan pascabanjir agar aktivitas masyarakat kembali normal dan risiko banjir serupa dapat diminimalkan di masa mendatang,” pungkasnya.
Reporter: Saka-1
Editor: Redaksi SakaNTB.com





