Sumbawa Besar, SakaNTB.com| 6 April 2026 — Suasana khidmat menyelimuti Istana Bala Kuning pada Minggu malam (5/4), saat digelar dzikir dan doa bersama memperingati 15 tahun penobatan Sultan Sumbawa XVIII sekaligus Malikelis (ulang tahun) ke-85 Dewa Masmawa Sultan Muhammad Kaharuddin IV.
Acara tersebut dihadiri Bupati Sumbawa, Syarafuddin Jarot, yang juga menyandang gelar adat Dea Pati Kanadi Ling Samawa, bersama Wakil Bupati (Wakil Dea Pati Kanadi Ling Samawa), jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah, pimpinan OPD, tokoh adat, serta masyarakat dari Kabupaten Sumbawa dan Kabupaten Sumbawa Barat.
Dalam sambutannya, Bupati menegaskan bahwa momentum tersebut tidak hanya bersifat seremonial, melainkan menjadi refleksi mendalam atas jati diri masyarakat Tau Samawa di tengah arus modernisasi.
Bupati menyimak Pasatotang (Titah Sultan) yang dibacakan oleh perwakilan Lembaga Adat Tana Samawa (LATS), Lalu Zulkifli Muhadli. Ia menekankan bahwa falsafah hidup masyarakat Sumbawa, “Adat Barenti Ko Syara’, Syara’ Barenti Ko Kitabullah”, harus tetap menjadi pedoman dalam kehidupan sosial maupun penyelenggaraan pemerintahan.
“Kehadiran Sultan sebagai Puen Rea adalah pilar penjaga marwah Tau dan Tana Samawa. Titah beliau agar kita tetap jernih, tidak mudah terprovokasi, serta memperkuat persatuan sangat relevan dengan kondisi saat ini,” ujar Bupati.
Dalam pidato kebudayaannya, Bupati juga menyoroti pentingnya hubungan harmonis antara manusia dan alam. Ia mengangkat sejumlah kearifan lokal masyarakat Sumbawa, seperti Mole Pade Antap (ketahanan pangan), Balong Ai Kayu (kelestarian air dan hutan), serta Telas Kebo Jaran (kesejahteraan ternak), sebagai nilai yang sejalan dengan program pembangunan daerah.
Menurutnya, prinsip-prinsip tersebut selaras dengan visi pemerintah melalui program Sumbawa Hijau Lestari yang menekankan pembangunan berkelanjutan berbasis lingkungan.
“Alam Tana Samawa bukan warisan yang bisa dihabiskan, tetapi titipan untuk generasi mendatang. Kebijakan hari ini harus selaras dengan nilai budaya yang menjunjung tinggi kelestarian,” tegasnya.
Kehadiran Bupati Amar Nurmansyah dalam kegiatan tersebut turut memperkuat hubungan historis dan emosional antara Kabupaten Sumbawa dan Kabupaten Sumbawa Barat. Bupati Jarot menyebut kedua wilayah memiliki akar peradaban yang sama, yakni Kesultanan Sumbawa.
Ia menilai sinergi antardaerah mencerminkan nilai Basiru (gotong royong) dan Tulung (tolong-menolong) yang menjadi bagian penting dalam pembangunan kawasan Samawa.
Kegiatan yang berlangsung hingga malam hari itu ditutup dengan ramah tamah. Bupati berharap nilai-nilai spiritual dan budaya, seperti “Taket Ko Nene, Kangila Boat Lenge” (takut kepada Tuhan dan malu berbuat buruk), tetap menjadi landasan moral masyarakat dalam mewujudkan Sumbawa yang beradab dan bermartabat.
Sejumlah pejabat dan tokoh adat turut hadir, di antaranya Wakil Bupati Sumbawa, Drs H Mohamad Ansori, Sekretaris Daerah Dr Budi Prasetiyo, serta perwakilan pengurus dan anggota LATS dari Kabupaten Sumbawa dan Sumbawa Barat.
Reporter: Saka-1
Editor: Redaksi SakaNTB.com





