BPBD Sumbawa Siaga Hadapi Krisis Air Tahunan, Dorong Solusi Jangka Panjang

Sumbawa Besar, SakaNTB.com| 15 April 2026— Krisis air bersih yang berulang setiap musim kemarau kembali menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) memastikan kesiapan armada dan personel guna mengantisipasi dampak kekeringan yang melanda sejumlah wilayah.

Wilayah utara, timur, barat, hingga bagian tengah Sumbawa tercatat sebagai daerah yang hampir setiap tahun terdampak kekurangan air bersih. Keterbatasan pasokan dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) membuat kebutuhan masyarakat belum sepenuhnya terpenuhi, terutama saat musim kemarau mencapai puncaknya.

Bacaan Lainnya

Dalam kondisi tersebut, distribusi air bersih oleh BPBD bersama unsur terkait seperti kepolisian dan Palang Merah Indonesia (PMI) menjadi penopang utama bagi warga terdampak.

Kepala Pelaksana BPBD Sumbawa, Muhammad Nurhidayat, ST menegaskan bahwa selain penanganan darurat melalui distribusi air, pihaknya juga mendorong langkah strategis jangka panjang.

“Kami tidak hanya fokus pada pendistribusian air bersih, tetapi juga berupaya mencari dan mengembangkan sumber air baru untuk masyarakat,” ujarnya.

Nurhidayat menekankan pentingnya perlindungan mata air sebagai tanggung jawab bersama. Ia mengingatkan bahwa kelestarian lingkungan sangat berpengaruh terhadap ketersediaan air, terutama saat musim kemarau.

Menurutnya, maraknya perambahan hutan dan pembalakan liar telah menyebabkan degradasi lingkungan yang signifikan. Dampaknya, jumlah titik mata air terus berkurang, sehingga memengaruhi debit air tanah yang menjadi sumber utama kebutuhan masyarakat.

“Berkurangnya titik mata air tentu berdampak langsung pada menurunnya ketersediaan air bagi warga,” jelasnya.

BPBD juga mendorong peran aktif pemerintah desa dalam menjaga kawasan hutan serta melestarikan sumber-sumber air yang tersisa. Selain itu, eksplorasi terhadap potensi sumber air baru dinilai perlu segera dilakukan sebagai langkah antisipatif.

Nurhidayat turut mengingatkan masyarakat agar lebih bijak dalam memanfaatkan lahan, khususnya menghindari alih fungsi hutan secara masif menjadi area pertanian yang berpotensi memperparah kerusakan lingkungan.

Di sisi lain, masyarakat diminta untuk proaktif melaporkan kondisi kekeringan atau krisis air bersih kepada pemerintah desa setempat agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan tepat sasaran.

Dengan kombinasi langkah darurat dan upaya jangka panjang, pemerintah daerah berharap dampak krisis air bersih tahunan di Sumbawa dapat ditekan, sekaligus menjaga keberlanjutan sumber daya air bagi generasi mendatang.

Reporter: Saka-1

Editor: Redaksi SakaNTB.com

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *