SUMBAWA BESAR, SakaNTB.com| 11 Juni 2026-– Ancaman terhadap kelestarian hutan di Kabupaten Sumbawa kian menjadi perhatian. Dalam kurun waktu lebih dari dua dekade terakhir, daerah ini tercatat sebagai wilayah dengan kehilangan tutupan pohon terbesar di Provinsi Nusa Tenggara Barat.
Data Global Forest Watch menunjukkan bahwa sepanjang periode 2001–2025, Provinsi NTB kehilangan sekitar 110 ribu hektare tutupan pohon. Dari jumlah tersebut, Kabupaten Sumbawa menyumbang sekitar 36 ribu hektare, atau menjadi daerah dengan tingkat kehilangan tutupan pohon tertinggi di provinsi ini.
Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran terhadap keberlanjutan sumber daya alam yang selama ini menjadi penopang kehidupan masyarakat, terutama ketersediaan air, produktivitas pertanian, serta perlindungan terhadap risiko bencana.
Salah satu kawasan yang memiliki peran strategis adalah Batulanteh, yang selama ini dikenal sebagai daerah tangkapan air utama bagi Kabupaten Sumbawa. Kawasan hutan ini berfungsi menjaga pasokan air bersih bagi masyarakat sekaligus menopang aktivitas pertanian di berbagai wilayah.
Namun dalam beberapa tahun terakhir, tekanan terhadap kawasan hutan terus meningkat. Pembukaan lahan di daerah perbukitan dan hulu sungai, perambahan kawasan hutan, serta berkurangnya vegetasi permanen dinilai telah mengurangi kemampuan lingkungan dalam menyerap dan menyimpan air hujan.
Akibatnya, aliran permukaan meningkat saat musim hujan sehingga memperbesar risiko banjir. Sebaliknya, pada musim kemarau, sejumlah sumber air mengalami penurunan debit yang berdampak pada kebutuhan masyarakat dan sektor pertanian.
Banjir Jadi Alarm Lingkungan
Awal tahun 2026 menjadi pengingat nyata atas pentingnya menjaga keseimbangan lingkungan. Banjir yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Sumbawa menyebabkan kerugian bagi masyarakat dan infrastruktur.
Kecamatan Empang menjadi salah satu wilayah yang terdampak paling besar. Tercatat sekitar 1.215 kepala keluarga atau lebih dari 3.600 jiwa terdampak akibat peristiwa tersebut.
Selain merendam permukiman warga, banjir juga mengakibatkan kerusakan pada jalan, jaringan irigasi, lahan pertanian, serta sejumlah fasilitas umum lainnya. Dampak yang ditimbulkan tidak hanya mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi juga membutuhkan biaya pemulihan yang besar.
Berbagai pihak menilai bahwa kondisi tersebut menunjukkan pentingnya menjaga kawasan hulu sebagai bagian dari upaya mengurangi risiko bencana di wilayah hilir.
Sumbawa Hijau Lestari Jadi Program Strategis Daerah
Sebagai respons terhadap tantangan lingkungan tersebut, Pemerintah Kabupaten Sumbawa meluncurkan Program Sumbawa Hijau Lestari yang masuk dalam program strategis daerah pada RPJMD Kabupaten Sumbawa Tahun 2025–2029.
Program ini dirancang tidak hanya melalui kegiatan penanaman pohon, tetapi juga mencakup perlindungan kawasan hutan, rehabilitasi lahan kritis, pemberdayaan masyarakat, serta pengembangan ekonomi yang tetap memperhatikan aspek keberlanjutan lingkungan.
Pelaksanaannya difokuskan pada lima agenda utama, yakni perlindungan dan pengamanan hutan, restorasi lahan kritis berbasis tanaman ekonomi, Gerakan Safari Menanam Pohon, pemberian insentif bagi pelaku konservasi, serta penguatan kelembagaan dan kolaborasi lintas sektor.
Bupati Sumbawa, Syarafuddin Jarot, menegaskan bahwa pelestarian hutan memiliki keterkaitan langsung dengan masa depan daerah dan kesejahteraan masyarakat.
“Ketika hutan rusak, yang hilang bukan hanya pohon. Yang ikut hilang adalah kemampuan alam menyimpan air, menjaga tanah, melindungi masyarakat dari banjir, dan menjamin keberlanjutan pertanian. Batulanteh adalah jantung sumber air Sumbawa. Karena itu menjaga hutan berarti menjaga masa depan Sumbawa,” ujarnya.
Melalui Program Sumbawa Hijau Lestari, pemerintah mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terlibat aktif, mulai dari pemerintah desa, pelajar, aparatur sipil negara, dunia usaha, komunitas lingkungan, tokoh agama, hingga masyarakat umum.
Pemerintah berharap upaya menjaga hutan tidak hanya dipandang sebagai program lingkungan semata, tetapi sebagai investasi jangka panjang untuk memastikan ketersediaan air, ketahanan pangan, dan perlindungan masyarakat dari risiko bencana.
Dengan semangat kolaborasi, Program Sumbawa Hijau Lestari diharapkan menjadi gerakan bersama untuk menjaga warisan lingkungan bagi generasi mendatang, sekaligus memastikan Sumbawa tetap tumbuh sebagai daerah yang hijau, produktif, dan berkelanjutan.
Reporter: Saka-1
Editor: Redaksi SakaNTB.com





