GAGASAN FESTIVAL KOTA PUSAKA SUMBAWA BESAR

Oleh: BM

Warisan telah sampai di tangan kita.
Lalu, warisan apa yang akan kita titipkan kepada generasi mendatang?

Bacaan Lainnya

Dari kegelisahan itulah lahir gagasan ini: Festival Kota Pusaka Sumbawa Besar — sebuah ikhtiar tahunan, hendak kita mulai pada 2027. Sekaligus sebagai jawaban atas komitmen besar pak Bupati Sumbawa terhadap pembangunan kebudayaan.

Bayangkanlah. Sekali lagi bayangkan!
Kawasan pusaka yang selama ini diam membeku, tiba-tiba bernafas kembali.
Pelatarannya menjadi panggung. Jalan dan gang menjadi lorong memori.
Di sana, gendang ditabuh, syair dilantunkan, sejarah diceritakan bukan dari buku, melainkan dari tatap dan temu antargenerasi.

Anak-anak belajar mengeja jati dirinya.
Anak muda menemukan panggung untuk mencipta.
Tangan-tangan perajin bertemu dengan mereka yang menghargai.
Aroma kuliner Samawa mengepul, memanggil orang untuk datang, dan merayu mereka untuk kembali.
Kreativitas tumbuh, seperti padi setelah hujan.

Untuk apa semua ini kita helat?

Bukan sekadar keramaian.
Festival ini adalah ikhtiar memajukan kebudayaan Samawa — merawatnya, menggubahnya, mewariskannya.
Menghidupkan kembali kawasan pusaka agar ia tidak beku menjadi pajangan masa lalu, melainkan denyut masa kini.
Menggerakkan ekonomi yang tumbuh dari rahim kebudayaan itu sendiri.

Kita ingin belajar kepada sesama kota pusaka, dan pada saat yang sama, membumikan peradaban Islami — bukan dalam slogan, melainkan dalam laku sehari-hari.

Sebab peradaban itu harus bisa dirasa:
ketika orang saling menunduk hormat,
ketika pedagang menakar dengan jujur,
ketika ruang publik tertata, lingkungan bersih terjaga, dan tangan terulur untuk sesama.

Apa artinya kita berpidato tentang peradaban, jika seusai pesta kita biarkan sampah berserakan?
Maka festival ini harus menjadi madrasah kita — tempat kita mempraktikkan nilai yang kita ucapkan. Tidak lagi sekadar slogan.

Dengan siapa kita berjalan?

Kita bergerak bersama.
Memanggil pemangku adat dan Kesultanan, para seniman dan budayawan, komunitas-komunitas yang setia merawat, pelajar dan mahasiswa, para pendidik, UMKM, perajin, pelaku wisata, pemerintah, dan seluruh masyarakat. Dari seluruh penjuru desa.

Kita buka pula pintu bagi delegasi kota-kota pusaka dan jejaring JKPI. Welcome to Tana Samawa. Sumbawa perlu merendah untuk belajar, dan perlu percaya diri untuk berbagi. Kekayaan kita terlalu sayang jika hanya kita simpan sendiri.

Dan di tengah semua itu, kita titipkan kunci pada anak muda: biar mereka yang mengolah cerita sejarah menjadi karya, biar mereka yang memandu jelajah pusaka, biar dari mulut merekalah dunia mengenal Sumbawa.

Apa yang akan hidup di dalamnya?

Gelar seni dan tradisi Samawa yang megah dan khidmat,
Jelajah dan pameran pusaka yang mengajak kita menunduk pada waktu,
Forum pembelajaran antarkota tempat kota-kota saling bercermin,
Lokakarya budaya bagi generasi muda,
Pasar kuliner, kriya, dan tenun yang menganyam rezeki,
Serta gerakan adat, gerakan kebersihan, dan gerakan sosial — karena festival tak boleh berhenti di panggung, esok hari kemudian bubar.

Semua dirajut sepanjang tahun, dalam kerja-kerja kecil yang tekun, lalu dipertemukan dalam satu puncak: Festival Kota Pusaka Sumbawa Besar.

Lalu, bagaimana kita tahu ia berhasil?

Bukan dari meriahnya lampu.
Tapi dari berapa banyak anak muda yang berani berkarya.
Berapa banyak pelaku usaha yang pulang dengan senyum rezeki.
Apakah kawasan pusaka semakin terawat, bukan semakin lelah?
Apakah kebudayaan tetap berdenyut, bahkan setelah panggung dibongkar dan tenda dilipat?

Apa jejaknya bagi Sumbawa dan Indonesia?

Bagi Sumbawa, ini adalah jalan untuk meneguhkan identitas, menyalakan kebanggaan, menjahit kembali benang antargenerasi, membuka pintu-pintu usaha, dan membuat kota ini dicintai, bukan hanya dikunjungi.

Bagi Indonesia, ini adalah jendela untuk mengenal Samawa lebih dalam — memperkuat persaudaraan antardaerah, dan berbagi satu pelajaran penting: bahwa merawat pusaka dan menyejahterakan manusia bisa berjalan seiring.

Karya besar selalu menuntut tiga hal: keberanian untuk memulai, kesungguhan untuk bekerja, dan ketekunan untuk melanjutkan. Dan hanya karya besar yang dicatat dalam lembaran sejarah.

Kita bisa memulainya dari apa yang ada. Dari yang kecil. Lalu membesarkannya bersama-sama.

Kelak, ketika generasi setelah kita membuka lembaran sejarah Sumbawa, akankah ada nama kita di sana? Ada karya kita di dalamnya?

Mari kita mulai menjawab pertanyaan itu.

Pada 2027.

Pusaka sebagai fondasi. Jejaring sebagai penguat. Peradaban sebagai tujuan [*]

#BM.SangPijar #BudayaSamawa #FestivalKotaPusaka

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *