By BM
Jum’at subuh tadi terasa ada yang istimewa. Saya bertemu dengan beberapa teman seperjuangan. Kami tergabung dalam Purna Bhakti Bahagia.
Biasalah, sebagai purna bhakti yang masih bugar, bisa melihat sesuatu dari luar dan dalam.
Bagaimana pak? Situasi kini menggelikan sepertinya rakyat saling berhadap-hadapan dengan pemerintah?
Saya terinspirasi sambil otak berpikir. Betul juga.
Rakyat memilih pemimpinnya.
Pemimpin mendapat mandat membentuk pemerintahan.
Di sinilah akad suci itu terjadi. Bukan sekadar pemilu lima tahunan, tapi ijab kabul antara pemberi mandat dan penerima mandat.
Rakyat menitipkan harapan.
Pemimpin menerima titipan itu sebagai amanah.
Agar amanah itu berjalan, rakyat menyiapkan segalanya:
Gajinya disiapkan.
Pakaian dinasnya dijahitkan.
Kendaraan dinasnya dibelikan.
Bahkan pena untuk tanda tangannya pun, rakyat yang membelikan.
Siapapun yang duduk di kursi terhormat, kursinya sudah ada. Rakyat tidak pernah menyuruhnya mencari uang. Semua sudah tersedia di dalam APBD. Karena APBD itu bukan uang pemerintah. Itu uang kita, milik bersama.
Tugas pemerintah pun jelas: Melindungi, Melayani, Memberdayakan, Mengatur.
Tapi hari ini, mengapa rasanya berbalik jauh bagai antara bumi dan langit?
Karena kita lupa, hubungan ini harusnya timbal balik. Ia seperti napas. Ada tarikan, ada hembusan. Jika satu saja tersumbat, kita semua akan sesak.
Harmoni itu rusak ketika penerima mandat lupa diri.
Ketika fasilitas yang seharusnya menjadi alat kerja, berubah menjadi simbol jarak. Mobil dinas yang seharusnya mempercepat sampai ke dusun terpencil, justru menjadi dinding kaca yang memisahkan. Pakaian dinas yang seharusnya seragam pengabdian, justru menjadi penanda kasta.
Ia lupa, gaji yang ia terima setiap bulan adalah keringat rakyat yang ia layani.
Namun harmoni itu juga rusak ketika pemberi mandat abai.
Banyak dari kita memberi mandat, lalu pergi. Kita memilih, lalu menghilang. Kita menitipkan kunci rumah, tapi tak pernah menengok apakah rumah itu dijaga atau digadaikan.
Memberi mandat bukan berarti selesai. Memberi mandat adalah awal dari tanggung jawab bersama. Rakyat yang baik bukan hanya pandai menuntut, tapi juga berani mengawasi dengan data, mengkritik dengan etika, dan berpartisipasi dengan karya.
Pemerintah tidak boleh anti-kritik. Dan rakyat tidak boleh hobi mencaci tanpa solusi.
Inilah harmoni timbal balik itu:
Penerima mandat menjaga amanah dengan cara bekerja dalam keheningan, melayani tanpa membedakan, dan mempertanggungjawabkan setiap rupiah dengan malu jika ia lalai.
Pemberi mandat menjaga marwahnya dengan cara tetap terlibat, tidak apatis, mengawasi bukan untuk menjatuhkan, tapi untuk memastikan rumah besar ini tetap berdiri tegak.
Pemerintah adalah penjaga rumah. Rakyat adalah pemilik rumah.
Penjaga yang baik tidak akan pernah merasa lebih tinggi dari pemiliknya. Dan pemilik yang bijak tidak akan membiarkan rumahnya dijaga tanpa pernah ditengok.
Mari kita jaga napas ini bersama. Bumi dan langit boleh tetap berjarak, tapi harmoni hubungan antara pemberi mandat dan penerima mandat, membuat jarak itu semakin dekat. Dekat sekali! [*]
BM | Sang Pijar
#CatatanPijar #HarmoniMandat #TataKelola





