SUMBAWA BESAR, SakaNTB.com| 25 Oktober 2026— Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Ahmad Ikliludin, menegaskan pentingnya akurasi, verifikasi, dan kepatuhan terhadap kode etik jurnalistik dalam menjalankan profesi kewartawanan. Penegasan itu disampaikannya saat menutup kegiatan Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) PWI se-Pulau Sumbawa, Minggu (25/10/2026).
Ahmad Ikliludin menilai, di tengah perubahan industri media dan meningkatnya arus informasi melalui media sosial, wartawan dituntut tidak hanya cepat menyampaikan berita, tetapi juga mampu memastikan setiap informasi yang dipublikasikan telah melalui proses verifikasi yang memadai.
Menurutnya, kecepatan tanpa ketepatan berpotensi mengurangi kualitas pemberitaan dan menggerus kepercayaan masyarakat terhadap media profesional.
“Jangan hanya mengejar kecepatan dalam menyampaikan berita, tetapi kita juga harus mengutamakan ketepatan data. Kita memiliki narasumber dan data yang harus diverifikasi,” tegasnya dalam sambutan penutupan OKK.
Ia menjelaskan, media pers memiliki tanggung jawab untuk menyajikan informasi berdasarkan konfirmasi narasumber, kelengkapan data, dan verifikasi jurnalistik. Prinsip tersebut menjadi pembeda penting antara produk jurnalistik dan informasi yang beredar di media sosial tanpa proses pemeriksaan yang memadai.
Karena itu, wartawan dituntut terus meningkatkan kapasitas profesional agar mampu menjawab tantangan perubahan perilaku masyarakat dalam mengakses informasi sekaligus menjaga kepercayaan publik terhadap pers.
OKK bukan sekadar formalitas organisasi
Ahmad Ikliludin menegaskan bahwa OKK tidak boleh dipandang sebatas kegiatan formalitas atau pemenuhan persyaratan organisasi. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat pemahaman wartawan terhadap dasar-dasar jurnalistik, Undang-Undang Pers, kode etik jurnalistik, dan aturan perilaku wartawan.
Ia mengakui, sebagian peserta telah memiliki pengalaman panjang dalam menjalankan tugas jurnalistik. Namun, pengalaman lapangan tetap perlu diimbangi dengan pemahaman yang kuat terhadap prinsip dan aturan profesi.
“Walaupun sehari-hari kita sudah melakukan kegiatan jurnalistik, kemampuan itu tetap harus diasah. Kalau tidak terus dipelajari, kita bisa lupa dan justru tersandung persoalan kecil ketika menjalankan tugas di lapangan,” ujarnya.
Menurutnya, pembelajaran berkelanjutan menjadi kebutuhan penting bagi wartawan agar mampu menjalankan tugas secara profesional, memahami batas-batas etika, serta mempertanggungjawabkan informasi yang disampaikan kepada publik.
Tantangan industri media dan perlindungan karya jurnalistik
Dalam sambutannya, Ahmad Ikliludin juga menyoroti tantangan yang dihadapi industri media, mulai dari perubahan pola konsumsi informasi masyarakat hingga penurunan pendapatan perusahaan pers.
Selain persoalan keberlangsungan usaha media, ia menyinggung penggunaan karya jurnalistik oleh pihak lain tanpa memperhatikan hak cipta. Persoalan tersebut, menurutnya, perlu disikapi secara serius melalui langkah yang sesuai dengan ketentuan hukum.
Ia menekankan bahwa profesionalisme wartawan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menghasilkan berita, tetapi juga mencakup tanggung jawab menjaga kualitas karya jurnalistik dan menghormati hak-hak yang melekat pada karya tersebut.
Upaya memperjuangkan perlindungan karya jurnalistik, lanjutnya, harus tetap ditempuh melalui mekanisme yang tepat dan berlandaskan aturan yang berlaku.
42 peserta mengikuti post-test
Dalam pelaksanaan OKK PWI se-Pulau Sumbawa, panitia menyampaikan sebanyak 13 materi yang mencakup kode etik jurnalistik, perilaku wartawan, Undang-Undang Pers, kewartawanan, serta keorganisasian PWI.
Berdasarkan evaluasi yang disampaikan Ahmad Ikliludin, dari total 51 peserta, sebanyak 42 orang mengikuti tes akhir atau post-test. Nilai pemahaman materi yang dilaporkan berada pada rentang 95 hingga 100 poin dari skala 100.
Hasil tersebut menjadi salah satu indikator evaluasi kegiatan. Meski demikian, capaian tes perlu diikuti penerapan pengetahuan secara konsisten dalam praktik jurnalistik sehari-hari.
Ahmad Ikliludin berharap materi yang telah diperoleh peserta tidak berhenti sebagai pengetahuan selama pelatihan, tetapi menjadi pedoman ketika melakukan peliputan, meminta konfirmasi, memeriksa data, dan menyusun berita.
“Ini merupakan momentum yang baik bagi teman-teman untuk mendapatkan pengetahuan dan memperkuat pemahaman tentang profesi kewartawanan. Saya berharap seluruh materi yang telah diperoleh selama OKK ini tidak berhenti di ruang pelatihan, tetapi benar-benar dipraktikkan ketika menjalankan tugas di lapangan,” katanya.
Apresiasi untuk panitia dan narasumber
Pada kesempatan tersebut, Ahmad Ikliludin menyampaikan apresiasi kepada PWI Kabupaten Sumbawa selaku penyelenggara, para narasumber, panitia, serta seluruh peserta yang telah mengikuti kegiatan.
Ia mengakui penyelenggaraan OKK membutuhkan dukungan pendanaan, tenaga, pemikiran, dan kerja sama berbagai pihak agar dapat berlangsung dengan baik.
“Atas nama PWI NTB, saya menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada PWI Sumbawa yang telah menyelenggarakan OKK se-Pulau Sumbawa. Saya memahami betul bahwa kegiatan ini membutuhkan dana yang besar, tenaga, dan pemikiran. Terima kasih kepada seluruh panitia yang telah bekerja keras hingga kegiatan ini berjalan dengan baik,” ujarnya.
Melalui kegiatan tersebut, PWI NTB berharap wartawan di Pulau Sumbawa semakin memahami tanggung jawab profesinya, menjunjung tinggi kode etik jurnalistik, serta menghasilkan pemberitaan yang akurat, berimbang, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Penguatan kompetensi dan etika jurnalistik diharapkan menjadi bagian dari upaya menjaga kepercayaan masyarakat terhadap pers di tengah derasnya arus informasi dan semakin kompleksnya tantangan industri media.
Reporter: Saka-1
Editor: Redaksi SakaNTB com





