Sumbawa Besar, SakaNTB.com | 11 Agustus 2025 — Nasib memilukan dialami sejumlah Tenaga Kerja Wanita (TKW) asal Kabupaten Sumbawa yang saat ini berada di Libya. Dalam kondisi penuh luka, salah satu dari mereka, Atika Lestari, mengirimkan video berdurasi 1 menit 29 detik yang memperlihatkan wajah dan tubuhnya yang memar akibat dugaan penganiayaan oleh majikannya.
Atika, yang berasal dari Desa Labuhan Burung, Kecamatan Buer, mengaku mengalami kekerasan fisik hampir setiap hari. Dalam video tersebut, terlihat luka di bagian kepala hingga darah masih membasahi rambutnya. Dengan suara lirih, ia memohon bantuan dari pemerintah Indonesia, khususnya Kedutaan Besar RI, agar segera dipulangkan.
“Saya sudah tidak tahan. Tolong bantu saya pulang,” ucap Atika dalam video yang kini beredar luas di media sosial.
Kondisi serupa juga dialami empat TKW lainnya yang diketahui berasal dari Sumbawa dan Lombok Timur. Mereka adalah Fitrianti binti Jemah dan Amanda Putri dari Desa Labuhan Burung (Kecamatan Buer), Icha—gadis di bawah umur dari Kecamatan Alas, serta Nurjannah asal Pringgabaya, Lombok Timur.
Diduga Korban Perdagangan Orang
Kelima TKW ini diduga menjadi korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) yang melibatkan jaringan perekrut dari Sumbawa hingga Timur Tengah. Berdasarkan informasi dari Ketua Perwakilan PDI Perjuangan di Kuwait, Anshary, para korban diberangkatkan tanpa dokumen resmi dan dijual ke pihak ketiga di Libya dengan harga sekitar USD 5.800 per orang.
Salah satu korban, Fitrianti, mengisahkan awal perekrutan pada April 2025 oleh seorang pria di Alas Barat. Setelah melalui serangkaian perjalanan—dari Sumbawa, Jakarta, Singapura, Dubai, hingga Istambul—ia akhirnya tiba di Libya bersama rekannya, Nurjannah. Mereka sempat ditahan otoritas setempat sebelum akhirnya diserahkan ke pihak yang mengaku sebagai majikan.
“Kami diperlakukan seperti barang. Tidak diberi istirahat cukup, makanan sangat terbatas, dan selalu mendapat kekerasan,” ujar Fitrianti dalam kesaksiannya kepada relawan kemanusiaan.
Upaya Penyelamatan Sedang Berjalan
Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Sumbawa, Abdul Rafiq SH, menyatakan keprihatinannya atas nasib para TKW tersebut. Ia menegaskan pihaknya telah melaporkan kasus ini ke Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) baik tingkat kabupaten maupun provinsi.
“Identitas para perekrut (tekong) dan jaringan yang terlibat telah kami kantongi. Kami juga sedang berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait, termasuk perwakilan luar negeri melalui jalur kepartaian untuk memastikan para korban bisa segera dipulangkan dalam kondisi aman,” tegas Rafiq, Minggu (10/8) malam.
Seruan Penindakan Tegas
Rafiq mengecam keras praktik perdagangan manusia yang masih terjadi, terlebih di tengah situasi global yang semakin kompleks. Ia mendesak aparat penegak hukum untuk mengusut tuntas kasus ini dan menindak tegas seluruh pihak yang terlibat, baik di dalam maupun luar negeri.
“Negara tidak boleh kalah oleh jaringan perdagangan orang. Korban-korban ini adalah warga negara yang haknya harus dilindungi,” pungkasnya.
Redaksi mengimbau pembaca untuk tidak menyebarkan ulang video atau gambar yang memuat kekerasan terhadap korban. Jika Anda mengetahui informasi terkait kasus ini, silakan melaporkan ke pihak berwenang atau lembaga perlindungan TKI terdekat.
Reporter: Saka-1
Editor: Redaksi SakaNTB.com





