SUMBAWA BESAR, SakaNTB.com| 16 September 2026— Ketua Badan Pelaksana Harian sekaligus Pariwa Adat Lembaga Adat Tana Samawa (LATS), KH Dr. Zulkifli Muhadli, SH, MBA, menegaskan pentingnya menjaga jati diri dan identitas masyarakat Sumbawa di tengah perubahan zaman dan derasnya arus globalisasi.
Pesan tersebut disampaikan Kyai Zulkifli saat mewakili Sultan Sumbawa, Dewa Masmawa Sultan Muhammad Kaharuddin IV, pada acara pembukaan Mudzakara LATS 2026 di Kecamatan Moyo Utara, Kabupaten Sumbawa.
Dalam kesempatan itu, Kyai Zul mengangkat makna filosofis salah satu lawas Sumbawa:
“Ada intan ku samodeng, ku sangisi tongka Mesir, ya timal umak rampek ban.”
Menurutnya, lawas tersebut tidak sekadar rangkaian kata, tetapi mengandung pesan tentang keyakinan, ketangguhan, peradaban, serta sikap masyarakat Tau Samawa dalam menghadapi perkembangan dunia.
Frasa “Ada intan ku samodeng”, jelasnya, dimaknai sebagai keyakinan terhadap potensi dan ketangguhan yang dimiliki masyarakat Tau Samawa. Intan menjadi simbol sesuatu yang bernilai dan kuat, sekaligus menggambarkan modal keyakinan dalam membangun sumber daya manusia dan kehidupan masyarakat yang tangguh.
Sementara itu, “ku sangisi tongka Mesir” dimaknai sebagai gambaran tentang peradaban. Mesir disebut sebagai salah satu simbol peradaban dunia, sehingga ungkapan tersebut menggambarkan harapan agar adat dan budaya Sumbawa memiliki kekuatan serta nilai peradaban yang kokoh.
Adapun baris ketiga, “ya timal umak rampek ban”, menurut Zulkifli, berkaitan dengan sikap masyarakat Sumbawa dalam menghadapi perubahan dan globalisasi.
Ia menilai masyarakat tidak mungkin sepenuhnya mengisolasi diri dari perkembangan dunia. Namun, pada saat yang sama, keterbukaan terhadap berbagai pengaruh dari luar juga tidak berarti harus kehilangan identitas budaya.
Karena itu, menurutnya, diperlukan proses seleksi dan adaptasi. Berbagai perkembangan, termasuk teknologi informasi dan media sosial, perlu disikapi secara bijak dengan memilah mana yang sesuai untuk diterima dan mana yang tidak.
“Langkah yang harus dilakukan adalah seleksi, setelah itu adaptasi. Mana yang bisa diterima dan mana yang ditolak, diadaptasi hingga menjadi globalisasi,” demikian substansi pesan yang disampaikannya.
Zulkifli menegaskan bahwa kekayaan adat dan budaya Sumbawa merupakan bagian penting dari identitas masyarakat. Ia menyebut “intan samodeng” sebagai salah satu simbol jati diri Tau Samawa yang perlu terus dijaga dan dipertahankan.
Melalui Mudzakara LATS 2026, pesan tersebut menjadi pengingat bahwa keterbukaan terhadap perkembangan zaman dapat berjalan beriringan dengan upaya mempertahankan nilai adat, budaya, dan identitas masyarakat Sumbawa.
Bagi Tau Samawa, adat dan budaya bukan hanya warisan masa lalu, tetapi juga menjadi landasan dalam menghadapi masa depan yang terus berubah.
Reporter: Saka-1
Editor: Redaksi SakaNTB.com





