KTS Gandeng Akademisi, Kajian Hari Lahir Tana Samawa Mengarah pada Pembentukan “Sumbawa Studies”

SUMBAWA, SakaNTB.com| 3 Mei 2026-– Upaya merumuskan Hari Lahir Tana Samawa terus memasuki tahap yang lebih serius dan akademis. Forum Kamanang Tana Samawa (KTS) kini menggandeng kalangan perguruan tinggi untuk memperkuat landasan ilmiah kajian tersebut.

Dukungan itu datang dari Rektor STKIP Paracendekia NW Sumbawa, Prof. Iwan Jazadi, dalam pertemuan bersama pengurus Forum KTS di kampus setempat, Selasa (2/6/2026).

Bacaan Lainnya

Pertemuan tersebut dihadiri Ketua Forum KTS Mallarangang Syarifoeddin bersama Arie Afrilian, Muhammad Kaniti, dan Rifqi Kukuh Primananda. Mereka memaparkan perkembangan kajian Hari Lahir Tana Samawa yang selama ini dilakukan melalui penelusuran data sejarah, kajian literatur, serta komunikasi dengan berbagai tokoh dan pihak terkait.

Prof. Iwan Jazadi menyambut positif langkah tersebut. Menurutnya, kajian Hari Lahir Tana Samawa memiliki nilai strategis karena tidak hanya berkaitan dengan penetapan momentum sejarah, tetapi juga menyangkut penguatan identitas, kebudayaan, dan memori kolektif masyarakat Sumbawa.

“Perguruan tinggi memiliki peran penting dalam membantu proses pengolahan dan verifikasi data sejarah agar hasil kajian memiliki dasar akademik yang kuat dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah,” ujarnya.

Diskusi berlangsung dinamis dengan membahas berbagai aspek yang berkaitan dengan Sumbawa, mulai dari sejarah, bahasa, dan kebudayaan lokal hingga dinamika sosial yang berkembang di tengah masyarakat. Peserta juga menyinggung rencana Seminar Nasional yang akan digelar Bapperida Kabupaten Sumbawa terkait pengkajian Hari Lahir Tana Samawa.

Dari pertemuan tersebut lahir gagasan yang lebih luas, yakni pembentukan “Sumbawa Studies” atau Kajian Sumbawa sebagai ruang akademik yang secara khusus berfokus pada penelitian sejarah, budaya, bahasa, dan kehidupan sosial masyarakat Sumbawa.

Konsep tersebut dinilai penting untuk menghimpun berbagai hasil penelitian tentang Sumbawa secara berkelanjutan sekaligus memperkuat dokumentasi pengetahuan daerah yang selama ini masih tersebar di berbagai sumber.

Selain itu, Prof. Iwan juga menekankan pentingnya digitalisasi arsip sejarah, naskah kuno, catatan, dan literatur yang berkaitan dengan Sumbawa. Menurutnya, langkah tersebut menjadi kebutuhan mendesak agar sumber-sumber sejarah dapat diakses lebih luas, terutama oleh generasi muda.

Pada akhir diskusi, Prof. Iwan mengingatkan pentingnya memahami sejarah secara utuh dan tidak sekadar melihat usia daerah dari sisi administratif.

“Jangan sampai kita cuma tahu secara umur biologis,” katanya.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pemahaman terhadap sejarah harus mencakup perjalanan identitas, dinamika sosial, dan perkembangan peradaban Tana Samawa dari masa ke masa.

Pertemuan antara Forum KTS dan kalangan akademisi itu menghasilkan sejumlah rekomendasi strategis, mulai dari penguatan dokumentasi sejarah, percepatan digitalisasi arsip, hingga pengembangan Sumbawa Studies sebagai pusat kajian yang mendukung pelestarian dan pengembangan pengetahuan tentang Tana Samawa.

Kedua pihak sepakat bahwa pengkajian Hari Lahir Tana Samawa tidak hanya bertujuan menetapkan tonggak sejarah daerah, tetapi juga menjadi momentum memperkuat jati diri dan kebanggaan masyarakat terhadap warisan sejarah dan budaya Sumbawa.

Reporter: Saka-1

Editor: Redaksi SakaNTB.com

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *