Kasus HIV Terdeteksi Menurun, Dinkes Sumbawa Perkuat Skrining Kelompok Berisiko

SUMBAWA BESAR, SakaNTB.com| 27 Agustus 2026— Jumlah kasus HIV yang terdeteksi di Kabupaten Sumbawa menunjukkan tren penurunan dalam tiga tahun terakhir. Data Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa mencatat 77 kasus pada 2024, turun menjadi 63 kasus pada 2025, dan hingga periode terakhir 2026 tercatat 28 kasus.

Meski angka kasus yang ditemukan menurun, Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa tidak menganggap kondisi tersebut sebagai tanda bahwa penularan HIV telah berhenti. Upaya penemuan kasus secara dini justru terus diperkuat melalui skrining dan pemeriksaan pada kelompok dengan faktor risiko.

Bacaan Lainnya

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa, H. Sarif Hidayat, SKM., MPH., mengatakan langkah tersebut penting untuk memastikan orang yang terinfeksi HIV dapat diketahui sedini mungkin dan segera memperoleh pengobatan.

“Konsep penanganan HIV itu bagaimana kasus dapat ditemukan sedini mungkin. Ketika ditemukan positif, segera diberikan pengobatan ARV, sehingga virus dapat ditekan dan risiko penularannya dapat diminimalkan,” jelas Sarif saat ditemui awak media di ruang kerjanya, Rabu (26/8/2026).

Menurutnya, penurunan jumlah kasus yang terdeteksi perlu dilihat secara proporsional. Rendahnya angka temuan tidak otomatis berarti jumlah orang yang terinfeksi di masyarakat juga menurun, karena masih dimungkinkan adanya kasus yang belum terdeteksi.

Karena itu, Dinkes Sumbawa bersama jajaran puskesmas terus melakukan skrining melalui jejaring pelayanan kesehatan. Pemeriksaan dilakukan secara berkala dengan menyasar kelompok dan kondisi yang memiliki faktor risiko, serta pasien dengan indikasi medis tertentu.

Skrining juga dilakukan terhadap kelompok khusus, termasuk ibu hamil. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya deteksi dini sekaligus pencegahan penularan HIV dari ibu kepada anak.

Dalam pelaksanaannya, Dinkes Sumbawa membangun koordinasi dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah provinsi dan unsur kepolisian, untuk mendukung kegiatan skrining serta pengendalian HIV di daerah.

Dorong Masyarakat Tidak Takut Tes

Sarif juga mengingatkan masyarakat yang memiliki faktor risiko untuk tidak menunda pemeriksaan. Salah satu tantangan yang masih dihadapi adalah kekhawatiran sebagian orang untuk menjalani tes karena takut kondisi kesehatannya diketahui oleh orang lain.

Padahal, pemeriksaan HIV di fasilitas pelayanan kesehatan dilakukan dengan memperhatikan kerahasiaan dan privasi pasien.

“Jangan takut untuk melakukan pemeriksaan. Yang penting adalah mengetahui kondisi kesehatan lebih awal, sehingga kalau ditemukan positif bisa segera mendapatkan pengobatan dan pendampingan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, HIV dapat menular melalui sejumlah cara, termasuk hubungan seksual berisiko dengan orang yang terinfeksi. Karena itu, pencegahan, edukasi, pemeriksaan, dan pengobatan menjadi bagian yang saling berkaitan dalam pengendalian HIV.

Bagi orang yang telah dinyatakan positif HIV, pengobatan antiretroviral (ARV) perlu dijalani secara teratur. Terapi tersebut bertujuan menekan jumlah virus dalam tubuh sehingga kesehatan pasien dapat dipertahankan dan risiko penularan dapat ditekan.

Dinkes Sumbawa bersama puskesmas pun terus memperkuat upaya skrining, edukasi, pencegahan, pengobatan, serta pendampingan. Langkah tersebut diarahkan untuk memastikan kasus HIV dapat ditemukan lebih awal dan setiap pasien yang membutuhkan layanan memperoleh penanganan secara tepat.

Di sisi lain, masyarakat diharapkan tidak memberikan stigma atau diskriminasi terhadap orang yang hidup dengan HIV. Dukungan sosial dan akses terhadap layanan kesehatan yang aman dan rahasia merupakan bagian penting dalam keberhasilan pengendalian HIV di Kabupaten Sumbawa.

Reporter: Saka-1

Editor: Redaksi SakaNTB.com

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *