Setiap kali saya datang ke Sumbawa, ada satu tempat yang selalu saya sempatkan untuk disinggahi:
Pasar Brang Biji.
Saya datang tak sekadar untuk mencari kue-kue tradisional, untuk mencicipi kembali rasa yang tidak berubah oleh waktu. Tapi lebih dari itu, saya datang untuk merawat ingatan. Karena pada tahun 1980-an, saya pernah menjadi bagian dari sejarahnya — sebagai teknisi yang ikut mengarsiteki pembangunan pasar ini.
Saya masih ingat petunjuk cerdas bapak Bupati Sumbawa H. Madilaoe ADT, agar pasar Brang Biji dibangun sebagai simbol warga kota Sumbawa Besar adalah masyarakat terbuka. Egaliter. Karena itulah bangunan fisik pasar dikelilingi oleh kios-kios berarsitektur Joglo.
Tercatat sudah dua kali pasar ini dilakukan revitalisasi dengan kucuran dana cukup besar dari APBN pada 2013 dan 2018. Sayang hanya fisik yang ditangani sementara jiwa penggeraknya terabaikan.
Pasar ini dibangun di lokasi yang sangat strategis, di jantung Kota Sumbawa. Dekat dengan pusat pemerintahan, berdekatan dengan rumah sakit, dan tidak jauh dari bandara. Sejak awal, ia dirancang bukan sekadar tempat transaksi, melainkan pusat denyut kehidupan kota.
Hari ini, fungsi itu masih ia emban dengan setia sebagai pasar tradisional. Namun kesetiaan itu perlu dijaga dengan transformasi sebagai wujud kemodernan.
Sudah saatnya Pasar Brang Biji bertransformasi menjadi pasar higienis — pasar yang bersih, tertata, sehat, dengan sirkulasi udara dan pengelolaan sampah yang baik, dengan lapak yang layak dan manusiawi.
Transformasi ini bukan untuk menggusur tradisi, melainkan untuk memuliakannya. Agar kehangatan tawar-menawar, sapa dalam bahasa Samawa, dan kearifan lokalnya tetap hidup dalam wadah yang lebih bermartabat.
Visi besarnya adalah: menjadikan Pasar Brang Biji sebagai Pusat Oleh-Oleh Produk Lokal Khas Samawa. Etalase resmi Sumbawa. Tempat pertama yang dikunjungi setiap tamu yang datang, tempat terakhir yang disinggahi sebelum mereka terbang pulang. Di sanalah madu Sumbawa, susu kuda liar, kopi, tenun, dan aneka kuliner produk UMKM unggulan harus mendapatkan rumah terbaiknya.
Untuk mewujudkan visi tersebut, izinkan saya menitipkan harapan:
Kepada Bupati Sumbawa, Bapak Ir. H. Syarafuddin Jarot, M.P. Bapak, Pasar Brang Biji adalah warisan pembangunan sekaligus modal masa depan. Di tangan kepemimpinan Bapak, kami berharap transformasi ini dapat menjadi prioritas pembangunan ekonomi kerakyatan yang membanggakan dan menyejahterakan.
Kepada Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian, Perdagangan dan UMKM Kabupaten Sumbawa, dan OPD terkait. Pasar hari ini tidak cukup hanya dikelola secara administratif, dijadikan pundi-pundi PAD. Ia harus dikelola secara kreatif dan adaptif membaca tren zaman.
Pedagang perlu pendampingan, produk perlu kurasi dan branding, sistem pembayaran perlu modernisasi, dan pasar perlu narasi yang kuat di ruang digital.
Hari ini Pasar Brang Biji butuh kreativitas dan keberanian mengeksekusi. Lebih dari itu butuh Passion. Mengubah kekumuhan agar menjadi kinclong. Mengubah harapan menjadi kenyataan yang menyejahterakan.
Jika generasi dulu membangunnya bermodal mistar dan kertas kalkir. Kini teknologi digital sudah manjadi denyut nadi perubahan.
Hari ini, mari kita lanjutkan membangun masa depannya — dengan kebijakan yang berpihak, kreativitas yang relevan, dan cinta yang sama pada Tau dan Tana Samawa.
Karena menjaga Pasar Brang Biji adalah menjaga marwah kota ini. (BM)





